Aku Seorang Aktor Sinetron

Aku adalah mualaf sastra. Belum banyak kata-kata yang mampu aku produksi. Sekalipun  ada beberapa carik kertas yang merekamnya.  Namun, “kenapa semuanya bernada sumbang?” tanya adikku yang suka celutak masuk kamarku tanpa permisi. “Mana puisi cintanya?” lanjutnya enteng. Mungkin dikiranya puisi itu hanya bergelut dengan kata-kata gombal yang biasa dianggap ABG sebagai cinta.

Pabrik kata-ku biasa beroperasi di malam hari. Di saat orang-orang memproduksi mimpi.  Atau mabuk dalam gemerlap berahi. Saat itulah aku berkelahi.  Dengan cinta kadang juga benci.

Bagiku, malam adalah pelabuhan sunyi. Saat, ketika langit-langit kamar memutar sinetron yang aku bintangi di siang harinya. Namun seperti kata adikku, “mana sinetron cintanya?” tanyaku  pada Sang Sutradara yang sekaligus pemilik skenarionya. Sebagai pemain, aku hanya bisa usul. Peran apapun yang diberikan Sutradara tentunya harus aku jalani dengan profesional dan sepenuh hati.

Sejujurnya, aku juga pernah memerankan beberapa sinetron cinta. Sayang semua sinetron cinta yang aku bintangi berakhir dengan pengkhianatan. Terkadang aku juga kapok membintangi sinetron cinta. Tapi, aktor juga manusia, bukan? Wajarlah jika dia merasa jenuh kalau harus mendapat peran yang sama setiap kali bermain. Aku pun kembali meminta kepada Sutradara agar memberiku peran utama dalam sinetron cinta yang berakhir dengan happy ending. Namun, sampai saat ini Sang Sutradara belum juga menjawabnya. Mungkin aku belum cukup dewasa untuk mendapat peran itu. Sebagai Sutradara, tentunya Dia tahu kelebihan dan kekuranganku dalam ber-acting.
Baca lebih lanjut

Iklan

بكت عيني

(Aku berhenti berharap, dan menunggu datang gelap[1] karena aku tahu habis gelap terbitlah terang[2])

Angin mengabarkan harapan yang pergi. Mungkin aku terlalu kuat mengepal harapan itu, sehingga harapan yang masih bayi itu pun tulangnya remuk oleh genggaman jari-jariku yang ceroboh. Harapan, yang kemarin terlihat indah, kini sudah tidak memiliki rupa. Tak berbentuk; tulang-tulang penyangganya roboh. Yang ada hanya darah hitam yang mengalir di sela-sela pori-pori tanganku yang kedinginan.

Tak dapat aku pungkiri kalau ke-pengecut-an-ku juga memberi andil. Selama ini, aku bisa dikatakan tipe orang yang berani mengambil risiko. Tapi, untuk urusan hati, call me a big fat loser! Phobia and traumata are hampering me all the time.

Some say: there’s no chance unless you take one, another say: opportunity strikes only once. Mark their words, guys! Trust me, they’re 100% RIGHT!
Baca lebih lanjut

I juz dont wanna deny

dag, dig, dug, dag, dig, dug! Anda dengar nyanyian itu?

Hanya berguling-guling di atas kasur yang aku bisa; I dunno what to do? Tengkurap, menyender, lalu berbalik lagi, akhirnya terkapar sambil memandangi langit-langit kamar. It’s been too many days and nites I hold it inside. It’s been too many days and nites I bottle it up; however, it bubbles over that I cannot hold it any longer!

Jika apa yang dikatakan oleh Doel Sumbang—kalau cinta itu anugerah—adalah benar, maka aku yakin kalau mencintai itu bukanlah suatu dosa. Namun, berdosakah aku bila menyakiti diri sendiri dengan cara memendam, bahkan sampai membunuh rasa cinta? Bukankah menyakiti diri sendiri itu adalah suatu perbuatan dosa? Entahlah … terlalu sulit untuk mendifinisikan cinta.

Pernahkah anda mendengar seorang bijak mengatakan: harapan adalah teman yang sangat menyenangkan? Bagiku orang itu sungguh tidak bijak. Selama ini aku hanya berteman harapan (How sad!) Hanya keinginan yang membeku dalam rongga dadaku, lalu membatu.

Panggil aku pengecut jika cuma gara-gara aku tidak berani mengucapkan kalimat sesederhana dan sebodoh ‘I love you’ aku pantas dipanggil pengecut! Bagiku, lebih baik dipanggil pengecut dari pada harus mengalami kegagalan yang sama untuk yang ke empat kalinya. Bukankah hanya keledai yang jatuh pada lubang yang sama? Bukankah seorang pengecut itu lebih baik dari seekor keledai? Aku memang pernah menjadi keledai, tapi aku tak mau terus-menerus menjadi keledai.
Baca lebih lanjut

Membongkar Cinta

“Fall in love only when you’re ready, not when you’re lonely!” kira-kira begitulah sebuah kalimat yang ditulis seorang teman dalam statusnya di sebuah situs jejaring sosial.

Bagi saya, pesan dari kalimat itu adalah sebuah innate knowledge, sesuatu yang sebetulnya saya ketahui, namun tidak saya sadari karena pengetahuan ini tidak didapat melalui proses learning seperti Matematika. Saya tahu bahwa ketika jatuh cinta, kita itu harus SIAP. Siap-nya sih bisa macem-macem. Siap secara mental, artinya mental kita kuat gak untuk jatuh cinta? Berani gak kita mengungkapkan cinta kita itu? Siap gak kalau nantinya kita ditolak? Terus yang terpenting adalah siap gak menjadi pasangan yang baik apabila cinta kita “bertepuk dua belah tangan?” Dan the last but not least, siap secara finansial! Kita tidak dapat menyangkal kalau yang namanya pacaran itu butuh biaya, berapapun itu. Atau mungkin masih ada siap-siap yang lainnya? Silahkan anda tambahin sendiri, saya sih agak kurang ahli dalam masalah ginian mah. Maklumlah, di usia yang sudah se-per-empat abad ini, saya memang tidak terlalu banyak memiliki pengalaman dalam hal membangun hubungan dengan lawan jenis, bisa dihitung sama jari kalau menurut bahasa populernya mah (koq jadi curcol ya?)

OK kita lupakan saja curhatan saya yang gak penting itu. Kita kembali ke Mr. Siap! Anda siap?

Ya, mungkin ini adalah jawaban atas kegagalan-kegagalan kita dalam bercinta (haha… bercinta, geli ngetiknya juga) seringkali kita gak sadar bahwa kita belum siap untuk jatuh cinta. Seringkali kita jatuh cinta karena lokasi (cinlok), karena situasi (cinsit), dan atau karena kondisi (cinkon)

OK, saya akan kasih contoh dari ketiga cinta tersebut berdasarkan pengalaman pribadi saya (kali ini bukan curcol, hanya memberi contoh)
Baca lebih lanjut

Di mana Diri Yang Dahulu Menangis?

Sejarah kehidupanku adalah butir-butir pertanyaan yang tidak memiliki hasrat untuk memburu jawaban! Lembar demi lembar yang aku singkap penuh dengan warna-warni. Kadang putih yang menyenangkan, kadang pekat ketika diri menyambangi kubangan setan. Atau bahkan merah ketika diri meronta menolak segala amuk yang terus bergejolak menyingkirkan keterasingan. Jauh dari jalan yang sudah ditempuh, sesungguhnya aku adalah  aku yang terus bermetamorfosa menuju sebuah bentuk yang dikatakan Tuhan sebagai makhluk yang paling sempurna. Tetapi, kapankah kesempurnaan itu aku capai jika nafsu meracuni setiap tetes air kehidupan yang aku reguk?

Sering aku bernyanyi bersama setan di kamar mandi, atau menirukan sumpah serapah Eminem yang tak pernah berhenti menghentak kesepian dalam mobil yang kukendarai. Alangkah senyap lirik-lirik itu mengganti ayat-ayat Al-Qur’an yang dahulu membasahi bibir. Sungguh diri ini sudah tidak perawan lagi!

Baca lebih lanjut