Di mana Diri Yang Dahulu Menangis?


Sejarah kehidupanku adalah butir-butir pertanyaan yang tidak memiliki hasrat untuk memburu jawaban! Lembar demi lembar yang aku singkap penuh dengan warna-warni. Kadang putih yang menyenangkan, kadang pekat ketika diri menyambangi kubangan setan. Atau bahkan merah ketika diri meronta menolak segala amuk yang terus bergejolak menyingkirkan keterasingan. Jauh dari jalan yang sudah ditempuh, sesungguhnya aku adalah  aku yang terus bermetamorfosa menuju sebuah bentuk yang dikatakan Tuhan sebagai makhluk yang paling sempurna. Tetapi, kapankah kesempurnaan itu aku capai jika nafsu meracuni setiap tetes air kehidupan yang aku reguk?

Sering aku bernyanyi bersama setan di kamar mandi, atau menirukan sumpah serapah Eminem yang tak pernah berhenti menghentak kesepian dalam mobil yang kukendarai. Alangkah senyap lirik-lirik itu mengganti ayat-ayat Al-Qur’an yang dahulu membasahi bibir. Sungguh diri ini sudah tidak perawan lagi!

Sementara setan-setan menjelma teman akrab, para pemuka agama malah sibuk berdebat! Akupun semakin asik menari, semakin jauh dari tangis, semakin jauh–katanya–mencari bentuk. Padahal meninggalkan bentuk yang susah payah dibangun oleh kedua orangtuaku lewat dua kalimat syahadat.

Dan, ya, sesungguhnya duniaku adalah dunia keterasingan dalam tangis. Dunia hanya aku dan Dia. Dunia yang batasnya hampir aku lewati, ya, hampir! Alhamdulillah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s