I juz dont wanna deny


dag, dig, dug, dag, dig, dug! Anda dengar nyanyian itu?

Hanya berguling-guling di atas kasur yang aku bisa; I dunno what to do? Tengkurap, menyender, lalu berbalik lagi, akhirnya terkapar sambil memandangi langit-langit kamar. It’s been too many days and nites I hold it inside. It’s been too many days and nites I bottle it up; however, it bubbles over that I cannot hold it any longer!

Jika apa yang dikatakan oleh Doel Sumbang—kalau cinta itu anugerah—adalah benar, maka aku yakin kalau mencintai itu bukanlah suatu dosa. Namun, berdosakah aku bila menyakiti diri sendiri dengan cara memendam, bahkan sampai membunuh rasa cinta? Bukankah menyakiti diri sendiri itu adalah suatu perbuatan dosa? Entahlah … terlalu sulit untuk mendifinisikan cinta.

Pernahkah anda mendengar seorang bijak mengatakan: harapan adalah teman yang sangat menyenangkan? Bagiku orang itu sungguh tidak bijak. Selama ini aku hanya berteman harapan (How sad!) Hanya keinginan yang membeku dalam rongga dadaku, lalu membatu.

Panggil aku pengecut jika cuma gara-gara aku tidak berani mengucapkan kalimat sesederhana dan sebodoh ‘I love you’ aku pantas dipanggil pengecut! Bagiku, lebih baik dipanggil pengecut dari pada harus mengalami kegagalan yang sama untuk yang ke empat kalinya. Bukankah hanya keledai yang jatuh pada lubang yang sama? Bukankah seorang pengecut itu lebih baik dari seekor keledai? Aku memang pernah menjadi keledai, tapi aku tak mau terus-menerus menjadi keledai.

Sering aku membunuh perasaan seperti ini karena, seperti yang saya tulis dalam post sebelumnya, aku takut kalau ini semua hanya bermula dari kesepian belaka. So far, cara ini cukup berhasil untuk meredam amuk bara yang tak henti-hentinya menyulut dinding-dinding kesendirian. Tapi, kali ini beda. Kali ini, perasaan ini tetap tumbuh subur meski berulang kali aku mencoba membunuhnya.

Memang hanya dua kali aku berkomunikasi dengannya. Pertama, saat kami berkenalan, ya, hanya berjabat tangan dan menyebutkan nama satu sama lain. Ke dua, kami sempat ngobrol kurang lebih 10 menitan. Aku harap akan ada yang ke tiga, ke empat, ke lima, dst (lagi-lagi hanya berteman harapan. Entah sampai kapan?) Namun lebih jauh dari itu, aku sering memperhatikan dia dari kejauhan. Boleh dibilang secret admirer. Mau bilang kolot? Wanna remind me that it’s 2010? Go ahead! I don’t care!

Jika merujuk pada teori yang aku tulis pada post sebelumnya, ini adalah anti-tesisnya , dan sepertinya terlalu naïf untuk mengatakan bahwa hal ini adalah cinta. Seperti menjilat ludah diri sendiri. Tidak ada friendship diantara kami. Namun, apakah teori dapat mengalahkan kenyataan? Kenyataanya, bara ini tak mampu aku padamkan. Dan, ya, dari suatu tempat yang bersembunyi dalam terang, dari tempat yang hanya aku dan Tuhan yang mengetahuinya, aku terus perhatikan dia. I watch the way she breathes, the way she smiles, the way she acts, the way she looks, the way she is, then yes, I love the way she breathes, the way she smiles, the way she acts, the way she looks, the way she is.

I juz don’t wanna deny that I’m in love wid her…

Iklan

3 pemikiran pada “I juz dont wanna deny

  1. Ping balik: بكت عيني « My Being Asep

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s