بكت عيني


(Aku berhenti berharap, dan menunggu datang gelap[1] karena aku tahu habis gelap terbitlah terang[2])

Angin mengabarkan harapan yang pergi. Mungkin aku terlalu kuat mengepal harapan itu, sehingga harapan yang masih bayi itu pun tulangnya remuk oleh genggaman jari-jariku yang ceroboh. Harapan, yang kemarin terlihat indah, kini sudah tidak memiliki rupa. Tak berbentuk; tulang-tulang penyangganya roboh. Yang ada hanya darah hitam yang mengalir di sela-sela pori-pori tanganku yang kedinginan.

Tak dapat aku pungkiri kalau ke-pengecut-an-ku juga memberi andil. Selama ini, aku bisa dikatakan tipe orang yang berani mengambil risiko. Tapi, untuk urusan hati, call me a big fat loser! Phobia and traumata are hampering me all the time.

Some say: there’s no chance unless you take one, another say: opportunity strikes only once. Mark their words, guys! Trust me, they’re 100% RIGHT!

Sekali lagi, call me a big fat LOSER! Mana mungkin aku bisa sampai di atas jika menginjakkan kaki pada anak tangga pertama pun sudah merasa takut. Bagaimana mungkin seseorang bisa berada di suatu tempat yang tinggi jika dia memiliki phobia ketinggian.

Kali ini aku benar-benar marah pada diriku menyia-nyiakan kesempatan (baca: waktu). Aku akui kalau selama ini aku kurang menghargai waktu. Kemarin, ketika aku menulis I juz dont wanna deny, pintu itu masih terbuka lebar. Dan hari ini, tepat beberapa menit sebelum aku menulis ini, seseorang telah menutup pintu itu untukku, RAPAT. Dan tanpa ampun dia langsung menguncinya, lalu meninggalkanku yang menggigil di luar sambil bertekuk lutut di atas tanah yang basah. Tercium harum lumpur!

Sebagai manusia, sangatlah wajar jika aku merasa marah dan kecewa. Dan sebagai manusia pula, aku sadar kalau kehidupan kita layaknya wayang, semua tergantung Sang Dalang. Aku yakin kalau ini adalah yang terbaik bagiku. I bet I lost her to someone better!

رضيت بما أعطيتني يا رب، وأنت أعلم بما لم أعلم وما أنت ظالم علی عبدك

Biarlah semua ini aku simpan dalam album sejarah di perpustakaan yang sarat debu. Tak ‘kan kuusik lagi dengan erangan juga jeritan. Setelah aku tahu makna kengerian…


[1] SO7

 

[2] R. A. Kartini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s