Bukan Itu Yang Menyedihkan

“Kapan mau nikah? Kenapa malam Minggu ada di rumah? Sudah punya pacar belum, dan blah blah blah?”

Heran! Akhir-akhir ini orang-orang doyan banget nanyain yang gituan. Padahal, mereka itu sama sekali bukan keluargaku. Orangtuaku saja belum pernah menanyakan hal-hal semacam itu. Kecuali ketika tiga kali: ketika ada tiga orangtua yang berbeda, secara bergantian, “melamar” aku untuk putri, cucu, dan kerabatnya. Itu pun HANYA ibuku yang HANYA meminta pendapatku tentang lamaran itu.
Baca lebih lanjut

Iklan

I fell in love with Pulau Umang and Pulau Oar

“Nickey, aku sudah sembuh, ga akan kambuh lagi. Aku ikut ah..” sms terkirim!

Sebenarnya, seluruh badan masih terasa ngilu. Sesekali, batuk pun merobek heningnya pagi di daun pintu. Walaupun, kekhawatiran akan kambuhnya sakitku untuk yang ke tiga kalinya terus-menerus menteror, tapi kesempatan liburan ke Pulau Umang sungguh sayang untuk dibuang begitu saja, pikirku! Dan, ya, tentunya semua anggota Endless (English Debating Circle of STBA Students) juga berpikiran yang sama. Buktinya, jam 7 Senin pagi, semua anggota Endless, yang sudah mengkonfirmasi keikutsertaanya dalam liburan ini, kecuali aku dan Yuvi yang datang agak terlambat beberapa menit, sudah berkumpul di kampus, tempat di mana kami akan memulai perjalanan. Semuanya rela menghadang dinginnya pagi untuk tiba on time, bahkan in time di kampus. Saat itu, kami hapus “I don’t like Monday” dari perbendaharaan klausa kami. Dalam diri kami, melalui sembilan pasang mata binar, tak terlihat apapun, kecuali antusias. Tak ketinggalan, fitrah narsis manusia yang ada dalam diri kami berulang kali mengabarkan nama Pulau Umang pada dunia lewat facebook mobile.

Sebuah van bertuliskan The Amazing Umang membawa gelak tawa ceria jiwa-jiwa yang tak sabar ingin mengomentari Maha Karya Sang Seniman Sejati. Sepertinya kami sudah rindu pada Pulau Umang sejak sebelum kami bertemu dengannya.

Sekitar jam 8 malam, van itu  belok kanan, di tikungan yang ada sign post kecil bertuliskan “Anda Telah Memasuki Kawasan Wajib Senyum.” Dan mesin diesel pun berhenti mengeja kerinduan kami pada Pulau Umang. Tas-tas berukuran cukup besar mulai dikeluarkan dari bagasi belakang. Seorang pria bertopi dalam balutan kaos putih menyambut kami. Dia adalah Om Piter, ayahnya Monic, orang yang akan mengatur kegiatan kami selama di Pulau Umang. Om Piter rupanya memiliki kedudukan penting di sana. Aku tidak tahu persis apa posisinya. Yang aku tahu, dia adalah orang yang bertanggungjawab atas Tangkil Sari, sebuah arena outbound di sana. Setelah membagi ruangan untuk kami, Om Piter membawa kami ke dermaga. Beliau menjelaskan jadwal kegiatan kami sambil menerangkan apa-apa saja yang ada di Pulau Umang. “Penerangan ayahnya Monic lebih jelas dari guide yang ada di Bali,” kata salah seorang temanku. ” Ya!” Aku setuju.
Baca lebih lanjut