I fell in love with Pulau Umang and Pulau Oar


“Nickey, aku sudah sembuh, ga akan kambuh lagi. Aku ikut ah..” sms terkirim!

Sebenarnya, seluruh badan masih terasa ngilu. Sesekali, batuk pun merobek heningnya pagi di daun pintu. Walaupun, kekhawatiran akan kambuhnya sakitku untuk yang ke tiga kalinya terus-menerus menteror, tapi kesempatan liburan ke Pulau Umang sungguh sayang untuk dibuang begitu saja, pikirku! Dan, ya, tentunya semua anggota Endless (English Debating Circle of STBA Students) juga berpikiran yang sama. Buktinya, jam 7 Senin pagi, semua anggota Endless, yang sudah mengkonfirmasi keikutsertaanya dalam liburan ini, kecuali aku dan Yuvi yang datang agak terlambat beberapa menit, sudah berkumpul di kampus, tempat di mana kami akan memulai perjalanan. Semuanya rela menghadang dinginnya pagi untuk tiba on time, bahkan in time di kampus. Saat itu, kami hapus “I don’t like Monday” dari perbendaharaan klausa kami. Dalam diri kami, melalui sembilan pasang mata binar, tak terlihat apapun, kecuali antusias. Tak ketinggalan, fitrah narsis manusia yang ada dalam diri kami berulang kali mengabarkan nama Pulau Umang pada dunia lewat facebook mobile.

Sebuah van bertuliskan The Amazing Umang membawa gelak tawa ceria jiwa-jiwa yang tak sabar ingin mengomentari Maha Karya Sang Seniman Sejati. Sepertinya kami sudah rindu pada Pulau Umang sejak sebelum kami bertemu dengannya.

Sekitar jam 8 malam, van itu  belok kanan, di tikungan yang ada sign post kecil bertuliskan “Anda Telah Memasuki Kawasan Wajib Senyum.” Dan mesin diesel pun berhenti mengeja kerinduan kami pada Pulau Umang. Tas-tas berukuran cukup besar mulai dikeluarkan dari bagasi belakang. Seorang pria bertopi dalam balutan kaos putih menyambut kami. Dia adalah Om Piter, ayahnya Monic, orang yang akan mengatur kegiatan kami selama di Pulau Umang. Om Piter rupanya memiliki kedudukan penting di sana. Aku tidak tahu persis apa posisinya. Yang aku tahu, dia adalah orang yang bertanggungjawab atas Tangkil Sari, sebuah arena outbound di sana. Setelah membagi ruangan untuk kami, Om Piter membawa kami ke dermaga. Beliau menjelaskan jadwal kegiatan kami sambil menerangkan apa-apa saja yang ada di Pulau Umang. “Penerangan ayahnya Monic lebih jelas dari guide yang ada di Bali,” kata salah seorang temanku. ” Ya!” Aku setuju.

Setelah dipuja, malam kami isi dengan acara grill. Dan kami pun lelap dengan perut dipenuhi ayam bakar dan jagung bakar.

Pagi sehabis shubuh, setelah menikmati sunrise dan beberapa jepretan kamera di dermaga, kami digiring ke bukit legon. Grill lagi! Kecuali aku yang tak suka seafood, dan Nanak yang vegetarian, semua anak menikmati sarapan–yang sebenarnya kalau dilihat dari porsi yang mereka makan, bisa dikatakan sarapan plus makan siang. Sementara aku dan Nanak sudah merasa cukup kenyang dengan nasi kuning, buah-buahan, serta air kelapa hijau muda.

Tiba saatnya kami keluar dari Pulau Jawa. Sebuah perahu kecil membawa kami ke  sebuah pulau, ya, Pulau Umang. Jepret.. jepret! “Jangan lupa tag ya, nic!” kata salah seorang dari kami. Dari sembilan orang, memang hanya Monic lah yang membawa kamera.

“Yuuhuu.. hahaa!” Gembira hinggap di atas tunggangan balon kuning mirip pisang yang diberi nama Banana Boat dan “duar…!” Banana Boat terguling. Kami basah kuyup.

Setelah puas berenang di pantai Pualu Umang, kami menyebrang ke sebuah pulau–Pulau Oar. Bibir kami tak henti-hentinya memuji Maha Pahatan karya Sang Pemahat yang mengukirkan nasib lebih beruntung dari jutaan orang lain yang mungkin belum pernah dan tak akan pernah segembira kami.

Hari itu, kami tutup dengan snorkeling.

Setelah makan malam di Rhino Cafetaria, lelah mulai mengundang kantuk, dan zZzz…!

Hari terakhir, seperti hari sebelumnya, kami mulai dengan segelas kopi dan beberapa jepretan di dermaga. Sunrise terlihat seperti sebuah permen jeruk yang amat manis.

Kali ini, kami dijadwalkan untuk bermain di arena outbond yang dipimpin oleh Om Piter. Tiga permainan tali menantang kami: jumping fox, high ropes, dan flying fox. Safety equipment mulai dipasang di tubuh kami. Tubuhku adalah tubuh yang terakhir. Terus terang nyaliku mulai ciut. Tapi, “ah ini mah permainan aku waktu kecin, tanpa alat pengaman” kataku, mencoba menutupi kelemahan. Gengsi donk!!

Dan, “O my goodness! no way..” teriakku saat tiba di atas papan tolakan jumping fox. Lututku bergetar. Anak-anak mulai terbahak. Harga diriku jatuh berkeping. Hancur seperti tubuhku apabila tali pengaman putus–Thank God, that never happened like  I was worried about! Aku minta usul agar diizinkan turun lewat spider web saja. Aku gak berani loncat, tapi Om Piter tetap memaksaku. Anak-anak semakin keras terbahak. Dan, jump.. twiw, twiw, entah gimana buruknya loncatanku. Yang aku tahu, mukaku ketakutan ketika tubuh tergelantung. Untungnya, high ropes dan flying fox aku lewati dengan lancar. Sedikit saving face lah. hahaha.. jumping fox memang bagian tersulit bagi kami. Terbukti, cuma Gugun yang lulus. Awalnya, aku menganggap hal ini adalah bagian terburuk dari liburan kami, tapi ketika sebelum pulang Om Piter bilang, “Semua orang punya hutang sama saya, semuanya tidak lulus jumping fox, hanya satu orang. Nanti saya tagih hutangnya!” Wasn’t it an invitation? would he invite us AGAIN to come? wasn’t it the best part of everything? Iya kan, Om? hehehe (We wish)

O, thank God!

Iklan

2 pemikiran pada “I fell in love with Pulau Umang and Pulau Oar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s