Bukan Itu Yang Menyedihkan


“Kapan mau nikah? Kenapa malam Minggu ada di rumah? Sudah punya pacar belum, dan blah blah blah?”

Heran! Akhir-akhir ini orang-orang doyan banget nanyain yang gituan. Padahal, mereka itu sama sekali bukan keluargaku. Orangtuaku saja belum pernah menanyakan hal-hal semacam itu. Kecuali ketika tiga kali: ketika ada tiga orangtua yang berbeda, secara bergantian, “melamar” aku untuk putri, cucu, dan kerabatnya. Itu pun HANYA ibuku yang HANYA meminta pendapatku tentang lamaran itu.

OK, aku berterimakasih atas perhatiaannya dan aku amin-i saja. Semoga pertanyaan-pertanyaan mereka jadi do’a buatku. Semoga aku cepat menemukan orang yang tepat! Siapa sih yang gak mau nikah?

Tapi, yang bikin aku kesal tu, kenapa tatapan mata mereka jadi aneh ketika aku jawab belum punya pacar? Seakan-akan mereka ingin mengatakan “menyedihkan sekali dirimu, nak.” Om, Tante, Akang, Mang, Eceu, etc. aku kasih tau ya. Yang menyedihkan tu bukan itu, tapi selama tiga hari ini, aku berjalan seperti robot gedeg gara-gara leherku sakit dan gak bisa menoleh ke kiri. Atau lelaki yang sepanjang jalan jadi bahan tertawaan orang-orang karena mengendarai sepeda motor sambil membawa katel berukuran besar di punggungnya, mirip kura-kura ninja.

“Ah, kamu ini gimana? Masa malam Minggu gini, mobilmu didiemin dingin di garasi gitu aja? Cari cewe dong, malu sama orangtua kayak Om!” lanjutnya, enteng.

Iya, Om. Di ruang tamu ini, Om baru saja menelepon seorang wanita centil, pake loudspeaker pula. Itu cukup membuktikan kalau, dalam urusan wanita, aku kalah telak sama Om yang tiap hari bisa gunta-ganti mobil semaunya. Tapi, sori ya, Om… aku bukan tipe orang seperti Om yang suka mamerin mobil sambil nyari cewe di jalanan. Aku tidak mau, dan atau tidak akan nyari calon istri di jalanan. Itulah bedanya aku sama Om. Oops, emang selama ini Om nyari istri, ya? Istri Om kan lagi nunggu di rumah.

Satu hal lagi yang perlu dicatat, Om: mobilku juga hasil jerih payah orangtua, bukan aku yang beli. Sama sekali aku tidak bangga akan hal itu.

Iklan

4 pemikiran pada “Bukan Itu Yang Menyedihkan

  1. Satuju euy! Tong neangan pi-pamajikan-eun nu resep ka urang ku alatan urang loba banda. Teangan mah pi-pamajikan-eun nu resep ka urang ku alatan naon2 nu aya dina jero diri urang, boh hadena atawa gorengna.

  2. Asep Saripudin :

    Satuju euy! Tong neangan pi-pamajikan-eun nu resep ka urang ku alatan urang loba banda. Teangan mah pi-pamajikan-eun nu resep ka urang ku alatan naon2 nu aya dina jero diri urang, boh hadena atawa gorengna.

    tapi urg bogoh kanu di Pasbar, kumaha atuh? haha (keukeuh)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s