Jika Anda Ingin Berhasil, Bersikaplah Egois!


Sebelum membahas orang-orang egois, mari kita definisikan dulu kata ego itu sendiri.

What is ego?

Lewis (2007) “your consciousness of your own identity.” Kamus Webster’s mendefinisikan ego: the individual as self-aware. Jadi apa sih buruknya menjadi egois? Kok, orang-orang menyuarakan supaya kita jangan egois. Kalau dilihat dari kedua definisi di atas, sama sekali tidak ada yang salah dengan ego.

Sebelum disentil oleh Paul Arden, saya (ikut-ikutan) percaya bahwa suara mayoritas adalah suara yang benar. Mayoritas orang menyuarakan supaya kita mengesampingkan ego, tapi tidak Paul Arden. Dalam bukunya, Whatever You Think Think the Opposite, ia menyatakan, “Mestinya kita dianugerahi ego karena suatu alasan. Orang-orang besar mempunyai ego yang besar; mungkin (maaf Arden, pada kata “mungkin,” ternyata Anda tidak lebih egois dari saya)itulah yang membuat mereka besar. So let’s put it to good use rather than to deny it. Life’s all about me anyway.” Oh, ini jawabnya. Yang salah bukan egonya, tetapi bagaimana cara ego itu digunakan. PUT IT TO GOOD USE!

Bagi saya, Gus Dur adalah contoh orang besar yang egois. Apakah Anda setuju? Saat ditegur ibunya supaya lebih sering bermain dengan teman seusianya dan jangan melulu berteman dengan buku, dengan egois Gus Dur (kecil) menjawab, “Dengan membaca buku, kelak temanku seantero dunia.” Dan Gus Dur berhasil. Akibat dari hobinya itu, Gus Dur berhasil “berteman” tidak hanya dengan kalangan orang NU dan Islam, tapi juga lintas agama dan dunia. Berbagai pengakuan (baca: penghargaan) baik nasional maupun internasional pernah beliau raih. Setelah beliau meninggal, ratusan artikel ditulis oleh berbagai tokoh–baik yang terkenal, tidak terkenal, maupun belum terkenal–mengenai Gus Dur di media cetak dan media online, termasuk blog. Setelah beliau meninggal, ribuan penjiarah berdatangan ke makamnya. Tidakkah itu menjadi bukti kalau teman Gus Dur itu banyak?

Menurut ego saya, Novel Ayat-Ayat Cinta berhasil menjadi Megabestseller karena penulisnya, Habiburahman El Shirazy, melawan mainstream pasar saat itu. Ia berhasil membesarkan egonya untuk menaklukan ego pasar.

Bedanya Ahmad Dhani dan Band Gigi dengan para musisi pendatang baru adalah Ahmad Dhani dan Band Gigi memegang teguh ego bermusiknya; itulah sebabnya mereka berhasil bertahan di kancah dunia musik Indonesia. Tidak seperti para musisi musiman yang mengorbankan egonya demi ego pasar. Mereka seperti jamur, adanya hanya di saat musimnya.

Sayang, Hitler dan Bush membesarkan egonya untuk bad use. Dan mereka berhasil.

So, be egoist in the good ways! Jangan dengarkan kata-kata rombeng yang bersifat “melarang”, selama itu menurut Anda baik, why not? Mungkin (saya tidak berhasil menjadi egois dalam kalimat ini, takut kualat kalau saya mencoret kata “mungkin” hehe…) itulah  kekeliruan orang tua kita dalam mendidik kita. Jangan ini-lah, jangan itu-lah. Takut ini-lah, takut itu-lah. Mereka membunuh ego kita. Padahal saat kita bayi—ketika kita masih menjadi manusia paling egois—orang tua kita tidak pernah melarang kita belajar berdiri, meskipun berkali-kali kita jatuh. Dan kita berhasil berdiri karena kita tidak mendengar dan tidak ada yang melarang ego kita untuk berdiri.

Silahkan berkomentar se-egois-egoisnya (in the good way)!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s