Hadiah Ultah Terindah

Janji yang tak bisa aku tepati, kegiatan rutin yang tak bisa aku ikuti, undangan yang tak bisa aku hadiri, aku mohon maaf. Momennya memang sungguh krusial bagiku. Tentunya aku tidak bisa membiarkan kedua orang tuaku yang sedang sakit terus-menerus diteror oleh bunyi HaPenya yang menagih hutang. I gotta take in charge, at least till they get well. Pikirku.

Tanggal 6 September adalah masalahnya. Semuanya kompak mau tutup buku pada hari itu. Pemilik pabrik tekstil yang dalam 2 tahun belakangan menjadi salah satu penyuplai bahan mentah konveksi kami adalah orang yang paling rajin “meneror” mereka. Padahal, selama ini dia tidak pernah menagih hutang. Seberapa besar pun hutang kami.

Sedikit kesal sih, kenapa tutup bukunya tidak sesudah lebaran saja? Maklum, kami hanya bermodalkan investasi kejujuran dan kepercayaan dari mereka yang memiliki pabrik tekstil. Jadi jangan pernah berpikir kami memiliki duit cadangan untuk mem-back up masa-masa sempit dan sulit seperti ini. Kasarnya, modal kami adalah hutang. Yang kami lakukan adalah memutarkan hutang dalam berupa kain. Kain itu kami sulap menjadi kerudung, sesudah itu kerudungnya kami dagangkan, uang hasil dagangnya kami bayarkan hutang lagi, ada lebihnya kami makan, pakai dlsb, tak ada lebihnya itu nasib kami.
Baca lebih lanjut

Iklan