Hadiah Ultah Terindah


Janji yang tak bisa aku tepati, kegiatan rutin yang tak bisa aku ikuti, undangan yang tak bisa aku hadiri, aku mohon maaf. Momennya memang sungguh krusial bagiku. Tentunya aku tidak bisa membiarkan kedua orang tuaku yang sedang sakit terus-menerus diteror oleh bunyi HaPenya yang menagih hutang. I gotta take in charge, at least till they get well. Pikirku.

Tanggal 6 September adalah masalahnya. Semuanya kompak mau tutup buku pada hari itu. Pemilik pabrik tekstil yang dalam 2 tahun belakangan menjadi salah satu penyuplai bahan mentah konveksi kami adalah orang yang paling rajin “meneror” mereka. Padahal, selama ini dia tidak pernah menagih hutang. Seberapa besar pun hutang kami.

Sedikit kesal sih, kenapa tutup bukunya tidak sesudah lebaran saja? Maklum, kami hanya bermodalkan investasi kejujuran dan kepercayaan dari mereka yang memiliki pabrik tekstil. Jadi jangan pernah berpikir kami memiliki duit cadangan untuk mem-back up masa-masa sempit dan sulit seperti ini. Kasarnya, modal kami adalah hutang. Yang kami lakukan adalah memutarkan hutang dalam berupa kain. Kain itu kami sulap menjadi kerudung, sesudah itu kerudungnya kami dagangkan, uang hasil dagangnya kami bayarkan hutang lagi, ada lebihnya kami makan, pakai dlsb, tak ada lebihnya itu nasib kami.

Bon dan tagihan ini-itu, termasuk gaji dan THR karyawan aku kalkulasi. Dijumlah dan dijamleh hasilnya jadi ableh. Tak kurang dari Rp70jt harus ada di tangan. Huffttt (niru anak-anak ababil di facebook). Tanggal 6 semakin dekat. Mau nyari kemana uang sebanyak itu dalam waktu yang sesingkat ini? “nyari keajaiban Allah saja, Sep!” jawab temanku yang kurang lebih memiliki masalah yang sama denganku. Melegakan sekali jawabannya.

Hari-hari semakin sibuk aku jalani. Malam di konveksi, siang di pasar. Waktu tidurku berkurang. Tak apalah. Yang penting orang tuaku bisa tidur nyenyak, biar masalah hutang mah aku pikirin (walaupun aku tahu tetep aja kepikiran sama mereka).

Puncaknya mulai dari tanggal 1, tepat di hari ulang tahunku. Pagi-pagi aku berangkat ke pasar, nyetir dalam keadaan ngantuk, maklum baru tidur satu jam, pulangnya sore. Sehabis Maghrib baru sampai di rumah. Saat itulah. Kondisi orang tuaku semakin memburuk. Usai shalat Maghrib aku bawa mereka ke RS dan akhirnya kedua orang tuaku terbaring di UGD. Inilah biaya yang tak masuk dalam kalkulasiku. Untungnya, ayah tidak perlu dirawat inap, hanya ibu.

“Mau pesan ruangan kelas berapa, Mas?” kata petugas RS.

“Kelas II saja, Mbak?”

“Ruangannya di Bougenville, depositnya 1juta 200ribu, sewa per harinya 208ribu belum termasuk obat dan kunjungan dokter. Depositnya kami tunggu paling lambat besok.”

Heg! Nyeseg mendengarnya juga. Kini aku tahu, selain polisi, ada lagi yang namanya si Raja Tega. Ya, rumah sakit.

“Saya bayar sekarang saja depositnya.”

***

Aku termenung di samping ranjang yang ditempati ibuku.

“Jam berapa ini, Sep?” tanya ibu.

“Setengah 12,” datarku.

“Kamu sudah makan?”

“Belum.”

“Makan dulu sana!”

“Iya.”

Aku memang buka puasa alakadarnya, belum sempat makan. Atau lebih tepatnya, karena panik sampai lupa makan. Mau makan apa ya? Dalam keadaan seperti ini, rasanya aku tak bernafsu untuk makan. Akhirnya aku memutuskan pilihan kepada tukang bubur ayam di pelataran RS.

Malam itu aku menginap di RS dan untuk pertama kalinya mengalami bagaimana rasanya makan sahur di RS. Tak enak.

Sesudah Shubuh aku terpaksa tinggalkan ibu. Aku harus balik ke rumah jemput adik. Hari itu dia harus chek up ke RS Mata Cicendo. Harus berangkat pagi-pagi banget. Tahu sendirilah, pelayanan di RS Mata Cicendo itu adalah yang paling lambat di dunia. Dan seperti biasanya, walaupun kami datang jam sebelu jam 7 pagi, karena pelayanan yang super-duper-lambat itu, kami baru bisa pulang sehabis Dzuhur. Ooops, hari itu kami tidak langsung pulang. Kami (aku dan adik) ke pasar dulu. Di toko Ci Joice, aku  ngalempreh. Rasanya capek sekali. Keringat begitu nikmat diterpa tiupan AC. Aku baru sadar betapa kucelnya diriku saat itu. Kaos yang kukenakan terlihat seperti lap pel. Ya, Tuhan, sudah tiga hari aku tidak mandi. Tidak pula ganti baju. Kaos ini adalah kaos yang sama yang aku pakai ketika aku memanggul karung kemearin lusa, kemarin, dan hari itu. Sesibuk itukah diriku? Mungkin iya. Jangankan untuk mandi, untuk tidur pun harus maling-maling waktu. Tapi tak ada yang sia-sia, walaupun hanya beberapa jam saja di pasar, aku bisa membawa pulang ±6jt. Alhamdulillah.

Singkat cerita, tanggal 3 aku meninggalkan pasar lebih dini dari biasanya. Aku kudu ke kampus. Hari itu adalah hari terakhir pembayaran uang kuliah. Hasil pertimbangan ini-itu, aku cuma bayar 1jt dulu. Ya tentu saja, aku kudu menandatangani surat perjanjian. Dalam perjanjian itu aku harus membayar 3jt lagi paling lambat tanggal 19 Nopember. Iya lah, deal. Biar urusannya cepat. Lagian aku buru-buru, sebentar lagi jum’atan. Pikirku.

Kabar gembira datang sesudah jum’atan. Ibu menelepon. Katanya beliau sudah boleh pulang ke rumah dan minta dijemput. Alhamdulillah. Kaki kananku begitu bersemangat menginjak pedal gas, selesaikan administrasi, and bubye hospital.

Ternyata ujian belum berhenti sampai di situ. Di saat kedua orangtuaku belum sepenuhnya sembuh, tanggal 4, adikku jatuh sakit. Aku bawa dia ke dokter. Tanggal 5 kondisinya memburuk, dan harus masuk ke RS yang sama yang pernah diinapi ibu. Lebihnya lagi, karena semua ruangan kelas II penuh, dan aku tak sampai hati jika harus menempatkannya di kelas III, terpaksa aku menempatkannya di kelas I. Dengan biaya yang lebih mahal tentunya. Masalah tagihan hutang sudah aku kesampingkan dulu. Yang penting kesehatan keluargaku. Aku percaya, Tuhan pasti menolong kami. Dan benar kata temanku, mencari keajaiban Allah. Alhamdulillah dalam waktu hitungan hari, keajaiban itu aku dapatkan. Dalam waktu hitungan hari (sebelum, ketika, dan sesudah ibu dirawat di RS), tidak kurang dari 40jt berhasil masuk kanton. Ya walaupun sesudah ditambah dengan uang yang ada di tangan masih tidak cukup untuk menutup semua tagihan. Setidaknya aku masih bisa tersenyum. Sedikit beban berkurang.

Tanggal 9, kondisi adikku masih belum memperlihatkan peningkatan. Dokter di RS yang katanya spesialis terkesan lalai. Sepertinya semaunya saja dia datang ke RS. Kadang pagi, kadang sore. Kami kecewa. Dan akhirnya kami memutuskan untuk pindah RS. Kemarin dia sudah bisa pulang ke rumah. Tapi masih perlu rawat jalan. Tanggal 16 harus check up lagi.

Berat rasanya. Lebaran dengan suasana seperti ini. Tapi tak apalah semua ini pasti ada hikmahnya. Everything always happens for a reason—Eminem (Mockingbird). Enough said. Setidaknya bagiku, pribadi, ini adalah hadiah ultah terindah dari Allah, sebuah pelajaran berharga bagaimana rasanya jadi tulang punggung keluarga dalam tekanan yang sedemikian berat. Baik tekanan lahir, maupun batin.

Akhir kata, sekali lagi, untuk janji yang tak bisa aku tepati, kegiatan rutin yang tak bisa aku ikuti, undangan yang tak bisa aku hadiri, aku mohon maaf lahir dan batin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s