Hiking Season: Marela Falls (Mini Niagara in Bandung)


Senin, 27 Des, 2010. 8 am.

6 unit sepeda motor, 12 penumpang meluncur dari Villa Asmara di kawasan Batu Jajar, Bandung Barat. Kami sengaja berangkat pagi, bukan karena takut macet. Wong kawasan yang kami tempuh adalah Cililin, tapi karena perjalan yang bakal menempuh jarak yang cukup jauh.

Setelah beberapa saat, kami tiba di sebuah pertigaan, di sebuah pasar. Di sana, kami sempat menanyakan arah kepada seorang penjual bakso.

“Lupa lagi euy, keu arah mana.” Kata Elfan yang bertindak sebagai penunjuk arah kami. Dia memang pernah ke Marela sekali. Mungkin dia luping.

“Mang, uninga Curug Marela?” (Pak, tau Air Terjun Marela gak?)

“Oh jang, lurus we ka arah  Gunung Halu, teras ka Rongga, nya 3o kiloan lah” (Oh dek, lurus saja ke arah Gunung halu, lalu ke Rongga, ya sekitar 30km-an lah)

“Ah, 30 kilo mah paling satu jam” kata Yupi. Aku iyakan saja.

Perjalanan kami lanjutkan. Melintasi perkampungan. Sampai akhirnya kami tiba di sebuah perkebunan teh. Udara sejuk mulai kami rasakan. Lanskapnya juga indah. Di sana, kami sempat istirhat sebentar untuk beli bakso tahu, dan tentunya “jepret, jepret,” tetap narsis. Beberapa foto kami ambil di sana. ” Tag ya!” Kata salah seorang dari kami (Sayang, fotonya entah dimana sekarang)

“Barade angkat ka marana, jang?” (Mau pada kemana, dek?), kata si penjual Bakso Tahu

“Ka Curug Marela, Mang!” (Ke Air Terjun Marela, pak)

“Oh, tebih keneh atuh, jang. 20 kiloan lah,” (Oh, masih jauh dong, dek. Sekitar 20km lagi lah)

Setelah merasa kenyang, kami pun melanjutkan perjalan. Masih tetap melintasi perkampungan. Kami kembali menjumpai hamparan perkebuan teh yang luas. Arloji baruku menunjukkan jam 12 lebih. 30km lebih sudah kami lewati, tapi belum ada tanda-tanda ada air terjun di sekitar. Hanya hamparan perkebunan teh.

“Mana air terjunnya?” Kata Jery yang sudah mulai kesal karena perjalanan belum juga berakhir.

“Nanya deh, takut nyasar.” kata Elfan.

Seorang pejalan kaki pun saya tanya. Ternyata kami salah belok. Kata pejalan kaki itu, harusnya kami belok kiri di pos satpam perkebunan itu. 3km kami nyasar. Kami pun kembali lagi. Sekumpulan ibu-ibu yang–mungkin– sedang bergosip ria di halaman rumahnya malah “meledek” kami.

“Naha, jang, uih deui? nyasar, lainna tadi teh naros atuh?” (kenapa balik lagi, dek? nyasar? bukannya tadi nanya kek?), teriak salah seorang dari mereka

Kami tidak menghiraukan ibu-ibu tersebut. Yang kami lakukan adalah melanjutkan perjalanan sesuai dengan  petunjuk pejalan kaki tersebut. Dan, akhirnya kami melihat sebuah penunjuk arah bertuliskan “Curug Marela”. Yes, sudah dekat. Pikirku.

Tapi,…

Buset! Setelah di tempuh, perjalanan masih sangat jauh. To make things worse, jalanan mulai berlumpur dan berbatu. Kami pun memutuskan, karena kasihan terhadap kondisi sepeda motor,  setiap sepeda motor hanya boleh ditumpangi satu orang saja. Penumpang belakang terpaksa harus turun, salah satunya saya. Sial! Jalanan yang belum diaspal-nya panjang banget. Tak kurang dari 3km saya beserta penumpang belakang lainnya harus bejalan untuk sampai ke check point (tempat parkir, rumah terakhir di perkampungan itu).

Ternyata, di check point, setelah dilihat di speedo meter sepeda motor milik Yuvi, perjalanan yang kami tempuh dari Batu Jajar sudah mencapai 60km. Wuih, jauh juga!

Belum berhenti sampai di sana, dari check point, kami harus berjalan kaki lagi sekitar 3km. Jalanan, masih tetap licin, berlumpur dan berbatu. Tapi, kali ini, semangat kami kembali tersulut. Pemandangan sepanjang perjalanan adalah pegunungan dan hutan cemara. Gemuruhnya air terjun pun sudah mulai terdengar. Kami terus berjalan.

kira-kira beginilah kondisi jalan, bagian ini belum sebegitu parah. banyak yang lebih parah dari bagian ini

Well, setelah lama berjalan, kami tiba di sebuah saung. Di sana, kami menyantap bekal makan siang kami sambil menatap indahnya Curug Marela dari kejauhan.

Saung, tempat kami makan siang

Dan, inilah yang kami tuju….

woohoo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s