Dear Malas,

Entah kapan kita bertemu? aku tidak ingat. Aku juga tidak tahu gimana caranya kita bisa bersahabat. O, malas! Kamu memang teman terbaikku, yang nyaris selalu hadir kapan pun dan di mana pun aku berada. Kamu juga teman yang paling perhatian. Di saat aku lagi bekerja, kamu yang paling duluan menegurku untuk ‘istirahat’. Bahkan, sebelum aku bekerja, sering kali kamu mengingatkanku supaya jangan terlalu ‘capek’.

Malas, terima kasih untuk kebersamaan yang kita jalani selama ini, dan untuk semua ‘kenikmatan’ yang selalu engkau suguhkan kepadaku. Tapi, mohon maaf jika hari ini aku memintamu supaya jangan terlalu sering datang, bahkan kalau bisa mending kita musuhan saja. Dua istriku yang baru, skripsi dan pasar, membeci kamu. Mereka memberi mandat padaku supaya menghapus dirimu dari daftar entri ‘kamus’ di dalam otakku.

Baca lebih lanjut

Iklan