Dear Malas,


Entah kapan kita bertemu? aku tidak ingat. Aku juga tidak tahu gimana caranya kita bisa bersahabat. O, malas! Kamu memang teman terbaikku, yang nyaris selalu hadir kapan pun dan di mana pun aku berada. Kamu juga teman yang paling perhatian. Di saat aku lagi bekerja, kamu yang paling duluan menegurku untuk ‘istirahat’. Bahkan, sebelum aku bekerja, sering kali kamu mengingatkanku supaya jangan terlalu ‘capek’.

Malas, terima kasih untuk kebersamaan yang kita jalani selama ini, dan untuk semua ‘kenikmatan’ yang selalu engkau suguhkan kepadaku. Tapi, mohon maaf jika hari ini aku memintamu supaya jangan terlalu sering datang, bahkan kalau bisa mending kita musuhan saja. Dua istriku yang baru, skripsi dan pasar, membeci kamu. Mereka memberi mandat padaku supaya menghapus dirimu dari daftar entri ‘kamus’ di dalam otakku.

Malas, pergilah! Sekarang saatnya kamu bergabung dengan teman-temanmu: kegagalan, penyesalan, pen-sia-sia-an (waktu), dll. Biarkan aku berbulan-madu dengan dua istri baru-ku. Karena aku yakin mereka akan memberiku keturunan yang selama ini aku dambakan: keberhasilan, kepuasan, kebanggaan, dan beberapa keturunan lagi yang belum sempat aku kasih nama.

Untuk alasan-alasan itu, mohon maaf jika aku lebih memilih dua istriku yang baru.
Selamat jalan dan takkan berjumpa lagi!

p.s. kalau kita (tidak sengaja) ketemu, larilah… karena aku pasti akan membunuhmu jika kau tetap berada di dekatku!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s