Maaf, Aku Mencuri Ceritamu


(Untuk Emak dan Bapak: Aku tak mampu mencari kata-kata untuk mewakili makna kata sesederhana cinta)

Prolog
Bapak sangat keras dalam mendidikku. Bahkan di kalangan tetangga, Bapak terkenal sebagai orangtua tergalak. Tak jarang tangannya hinggap di muka ini. Tanda merah bekas rotan gagang sapu ijuk yang digebukkan pun sering bersilangan di punggungku. Semua itu Bapak lakukan untuk mengimbangi sifat bandelku. Terlebih jika aku lalai dalam menjalankan salat. Walaupun, secara syariat, saat itu aku belum bisa disebut mukalaf, atau boleh dibilang belum aqil baligh, tapi Bapak begitu keras dalam mengajarkanku tentang pentingnya salat. Sering aku menangis karena pendidikan yang diberikan Bapak begitu menyiksaku. Saat itu, yang aku lakukan adalah lari dan menangis di pangkuan Alm. Nenek (dari garis keturunan Emak) yang rumahnya tidak jauh dari rumah kami. Atau kalau tidak, Emak, dengan kelemahlembutannya, mengobati tangisku.


Dulu, aku sering menyesal mempunyai ayah seperti Bapak. Aku tidak tahu apakah waktu itu sudah ada UU Perlindungan anak atau belum. Sepertinya kalau saja waktu itu aku tahu ada UU semacam itu, tindakan Bapak pasti akan aku laporkan. Tapi, seiring berjalannya waktu, dan aku semakin mengerti kehidupan ini, pemikiran itu tidak akan pernah ada lagi. Mungkin semua penyesalan itu ada karena aku belum mengerti dan mengenal Bapak. Aku belum tahu kalau dunia mendidik Bapak lebih kejam dari pada kerasnya pendidikan yang aku terima darinya. Dan aku yakin bahwa cara Bapak mendidikku bukanlah cara ia untuk balas dendam atas kesusahan yang ia dapati semasa kecilnya. Semua gamparan Bapak aku terima layaknya belaian tangan-tangan halus yang meninabobokanku saat malam melahap terangnya siang. Tidak akan sampai hati aku melaporkan Bapak ke KPAI atau polisi. Lagi pula, sekarang Bapak tak pernah memukuliku lagi. Bahkan kalaupun ada seseorang yang berbelaskasihan kepadaku karena sering melihatku dipukuli Bapak, lalu orang itu melaporkan tindakan Bapak ke polisi, aku adalah orang pertama yang bakal menghunus pedang untuk menjegal langkah orang tersebut. Aku yakin maksud Bapak adalah ingin mengenalkanku pada dunia yang sebenarnya, bukan dunia dongeng happy ending. Semua itu adalah cara Bapak menyayangiku.

Aku yakin predikat juara kelas yang kuraih dari kelas I sampai kelas VI (sombong!) tidak lepas dari andil doa serta pendidikan yang Emak dan Bapak berikan di rumah. Aku yakin pujian dari para asatid di madrasah adalah hasil dari panasnya ujung rokok yang Bapak sunutkan ke lengan ini. Kau masih ingat saat itu kan, Bapak? Ketika Emak mengajariku untuk mengeja Alquran, dan begitu bodohnya aku saat itu sehingga Emak harus berulang-ulang memberi contoh, lalu engkau yang waktu itu sedang mengayuh mesin jahitmu merasa kesal mendengar kebodohanku itu. Sehingga engkau turun dari mesin jahitmu lalu menyunutkan ujung rokokmu di lengan ini. Kau masih ingat saat itu kan, Bapak? Terima kasih untuk semua itu. Panasnya ujung rokok itu kini terasa lebih dingin dan nikmat dari segelas jus mangga yang diperam dalam kulkas yang aku reguk di tengah hari ketika sang surya memperlihatkan keperkasaannya.

Aku yakin akan kasih sayang Emak dan Bapak. Buktinya, dalam beberapa hal, aku begitu dimanja. Apapun yang aku minta, pasti akan mereka usahakan, seberapa susahnya pun itu. Walaupun saat itu, karena kondisi ekonomi, mereka tidak bisa memberi semua yang aku pinta.

Siapa Nama Bapak?


26 tahun sudah berlalu semenjak Emak melahirkanku. Suatu ukuran waktu yang terlalu lama bagi seorang anak untuk sekadar mengetahui nama orang tuanya. Tapi, nyatanya sampai sekarang aku tidak pernah tahu siapa nama “asli” Bapak. Jangan nanya kapan ulang tahunnya. Dalam hal ini berlaku hukum “apalagi”. Konyol? Tidak!! Bukan aku tak mampu untuk menghafal nama Bapak. Tentunya aku menjadi anak yang paling durhaka jika demikian adanya. Kalau hanya nama, aku mampu menghafal lebih dari satu nama teman baruku di sekolah.

Bapak tidak pernah memberi tahuku siapa nama aslinya. Yang aku tahu orang-orang memanggilnya Dede. Tapi nama panggilan bisa saja bukan nama asli.

Bagaimana dengan nama Bapak di buku lapor dan ijazahku dari SD sampai SMK? Di sana sih tertera sebuah nama yang keren, jauh lebih keren dari namaku yang hanya sekadar Asep. Adalah Nenek buyutku (dari garis keturunan Emak) yang memberiku nama Asep, katanya sih supaya aku pintar. Apa betul begitu, kalau punya nama Asep bakal pintar? Apa hubungannya coba?

Tak heran jika namaku old-fashioned, lho wong di zaman itu saja, pas aku lahir, nenek buyutku sudah tua. Pastilah dia menamaiku dengan nama yang ngetren di zamannya yang juga tua. Walaupun aku gak yakin juga sih nama Asep itu ngetren di zaman nenek buyutku. Tapi begini: kalau sekarang saja banyak yang namanya Asep, apalagi dulu. Nama Asep kan nama zaman dahulu; katanya!

Aku akui kalau aku pernah menyesal memiliki nama Asep. Bahkan ketika bertemu dengan orang baru, terutama lawan jenis, aku sering memperkenalkan diri dengan nama—yang dulu kuanggap—lebih keren dari Asep. Tapi, itu dulu. Sekarang aku tidak ragu untuk menyebut diriku Asep. Malahan sebaliknya, aku bangga memiliki nama Asep. Aku juga menjadi anggota komunitas orang-orang yang memiliki nama Asep di situs jejaring Facebook, Paguyuban Asep @ Facebook. Aku sih lebih suka ‘On Facebook’, bukan ‘@ Facebook’. Tapi, gak apa-apa! Tidak usah dijadikan masalah. Toh bukan aku administraturnya juga. Terakhir kali aku ngcek anggotanya ada 1313 orang. Keren kan nama Asep? Aku rasa tak ada komunitas lain yang semua anggotanya memiliki nama yang sama, kecuali Komunitas Sugeng (saingan terberat kami).  Suatu saat, aku berharap kita dapat rekor MURI.

Kita simpan dulu pembahasan nama Asep. Yang pasti namaku tidak se-barat-baratan nama-nama anak sekarang. Di buku lapor dan ijazahku dari SD sampai SMK, tertulis Hendri untuk nama Bapak. Hanya nama itu. Aku sangat tidak yakin kalau Hendri itu adalah nama asli Bapak. Beberapa tahun yang lalu, Emak dan Bapak hendak membuat paspor untuk ibadah haji (Allahuma ij’al humma hajjan wa hajjatan mabruran wa mabrurah, Amin!). Pembuatan paspor Emak sih lancar-lancar saja, tapi tidak dengan yang Bapak.

Pembuatan paspor Bapak tersandung masalah. Yaitu NAMA, nama yang akan ditulis di paspornya nanti. Nama Bapak di ijazah SDnya (Bapak memang hanya tamatan SD), KTP, kartu keluarga, dan surat nikah, semuanya berbeda. Banyak banget namanya, kataku. Tapi Bapak bukan teroris yang namanya banyak lho.

Bahkan, setelah aku cek, nama Bapak yang tertulis di ijazah adikku juga bukan Hendri. Tapi Dede Hendri. Mungkin gabungan antara nama panggilan dengan nama yang ada di ijazahku. Bagiku, hal ini tetap jadi masalah. Aku dan adikku satu ayah dan satu ibu, tapi nama ayahku lebih pendek dari nama ayah adikku.

Alhasil, karena nama Bapak yang banyak itu, aku sibuk ngurus-ngurus surat keterangan dari desa untuk persyaratan tambahan pembuatan paspor.

Bapak adalah anak kedua dari dua orang bersaudara. Menurut cerita Bapak kepada temannya (saat itu mereka ngobrol di ruang tamu, dan diam-diam aku nguping. So aku tegaskan, Bapak tidak pernah bercerita langsung kepadaku), Bapak dilahirkan di Lengkong Kecil, Bandung. Namun, sang Pemahat nasib menggoreskan sejarah kehidupan Bapak di Pulau Sumatera. Hampir seluruh keluarga besar Bapak mengikuti program transmigrasi ke Lampung. Dan hal itu terjadi ketika Bapak masih seorang bayi. Inilah awal dari permasalahan nama Bapak.

Ibunya (nenekku) meninggal dunia tak lama setelah ayahnya (kakekku) balik lagi ke Bandung. Aku sih lebih suka menyebutnya ‘kabur’, bukan ‘balik lagi’. Kabur dari tanggung jawabnya sebagai suami dan orang tua untuk menafkahi, merawat, menjaga, istri dan kedua anaknya. Bapak waktu itu masih seorang anak kecil. Sangat kecil. Bahkan terlalu kecil untuk hanya mengingat kejadian-kejadian itu. Mungkin seseorang menceritakan kejadian itu kepada Bapak sehingga ia bisa menceritakan kembali kepada temannya.

Aku tidak bisa mengira-ngira berapa usia bapak saat itu. Yang pasti, Bapak tidak pernah tahu (baca: ingat) rupa ibunya sendiri seperti apa. Bisa kita bayangkan betapa kecilnya Bapak ketika ia kehilangan kedua orang tuanya. Semenjak itu, yang Bapak punya hanya seorang kakak laki-laki yang juga masih kecil (uwakku), nenek (buyutku), dan beberapa orang uwak serta paman dan bibi. Semenjak itu pula Bapak tinggal dengan neneknya.

Tiap hari, Bapak dan kakaknya pergi ke kebun. Itulah satu-satunya cara mereka untuk bertahan hidup. Tak ada kata libur buat mereka. Hari Minggu pun tetap bekerja. Saat itu Bapak baru kelas I SD. Betapa malunya aku bila aku menganggap diriku orang yang tidak beruntung karena memiliki ayah yang galak. Dunia lebih galak dalam mendidik Bapak.

Tidak sepertiku, Bapak tidak memiliki orangtua yang merawatnya. Malah sebaliknya, Bapak yang merawat orangtuanya yang sudah renta, neneknya. Uwak, paman, dan bibinya—dari cerita Bapak yang kutangkap—sepertinya tidak bisa menjadi pengganti kedua orang tua kandung Bapak, seperti yang seharusnya.

Aku tidak bisa membayangkan hal ini harus dihadapi oleh anak kelas I SD. Di saat teman-temannya bercanda ria menikmati masa kekanakannya, di saat mereka hangat dalam pelukan orangtuanya, Bapak menggigil di dinginya malam dalam sebuah saung reyot di kebun yang digarapnya. Letak kebun itu yang tidak jauh dari hutan menjadikan Bapak terus-menerus berada dalam bahaya. Bukan tidak mungkin hewan buas berkeliaran di sana.

Kenyataan ini terlalu pahit bila dibandingkan dengan kehidupanku. Mungkin ini adalah jawaban kenapa nama Bapak sebegitu banyak. Tak ada yang mengurus pendaftaraan Bapak ke sekolah. Bapak yang mengarang namanya sendiri ketika daftar sekolah. Kemudian Bapak menggantinya ketika mebuat KTP pertamanya. Itu adalah dugaanku. Bukan tidak mungkin Bapak mengganti-ganti nama sesuka hatinya. Kita saja yang tahu nama asli kita juga doyan gunta-ganti nama, walaupun tidak untuk urusan sepenting KTP.

Tapi, coba kita posisikan diri kita di posisinya Bapak saat itu. Besar kemungkinan kita akan melakukan hal yang sama. Siapa yang peduli dengan nama Bapak? Siapa yang memberikan koreksi ketika Bapak mengganti-ganti namanya? Tak ada seorang pun yang tahu siapa nama Bapak sebenarnya. Bahkan mungkin Bapak sendiri juga tidak tahu apa nama yang diberikan orang tua kandungnya ketika ia dilahirkan. Di zaman sekarang saja, banyak anak-anak yang tidak punya akta kelahiran, walaupun mereka memiliki orang tua yang utuh. Apalagi Bapak!

Kegigihan Bapak dan Kakaknya akhirnya membuahkan hasil. Menginjak kala Bapak duduk di kelas II SD, ia sudah bisa membeli tanah sendiri. Aku agak lupa angka pastinya, tapi aku masih ingat betul satuan luas yang Bapak sebutkan ketika ia bercerita kepada temannya, hektar. Untuk gampangnya, kita sebut saja sekian hektar. Sempat, aku bertanya-tanya, apa mungkin seorang anak kelas II SD dapat membeli tanah seluas itu? Bila aku membandingkan dengan harga tanah yang aku tahu di zaman sekarang, di Bandung pula, hal itu sangat jauh dari kata mungkin. Tapi untuk ukuran zaman dulu, di kampung, di Lampung yang daerahnya masih sangat kosong hal itu sangatlah mungkin. Harga tanah pasti sangat murah (untuk anak yang kondisinya seperti Bapak, tetap saja mahal).

Mendengar cerita Bapak sampai titik ini, aku sangat bahagia. Akhirnya ada juga bagian dari cerita Bapak yang menunjukkan keberhasilan dan kebahagiaan. Tapi cerita belum berakhir di sini. Cucuran tangis dan keringat Bapak yang manis diminum orang lain. Rupanya bukan hanya orang Malaysia yang doyan mengklaim hak orang lain. Tanah hasil jerih payah Bapak diklaim seseorang, entah uwak, paman atau bibinya. Aku tidak ingin memperjelas siapa orang itu.

“Ini tanah orangtua, hasil jerih payah orangtua. Kamu tidak berhak atas tanah ini!” Begitulah kira-kira ucapan orang itu. Bapak hanya terdiam tak berdaya. Aku tidak bisa membayangkan kekecewaan Bapak saat itu. Seorang anak kecil di kampung seperti Bapak saat itu tak mungkin tahu soal sertifikasi tanah. Di zaman sekarang saja, di kota besar seperti Jakarta masih terjadi sengketa tanah. Alangkah galaknya dunia mendidikmu, Bapak! Maafkan aku yang selalu merasa tidak beruntung memiliki ayah yang galak sepertimu. Aku masih punya Emak dan Eni (begitulah aku memanggil Alm. Nenek) yang meredakan amarahku kala Bapak menggalaki diriku, tapi siapa yang meredakan amarahmu ketika dunia berbuat galak kepadamu? Sungguh aku jauh lebih beruntung.

Mimpi Terbesarmukah Ini?
Aku sering mendengar ciak cemas seekor anak ayam yang kehilangan induknya. Bagaimana jika hal itu menimpa manusia yang memiliki perasaan yang jauh lebih sempurna dari seekor anak ayam?

Apa yang menjadi keinginan paling raksasa dari seorang anak yang sejak lahir tidak pernah tahu (baca: ingat) rupa ayah dan ibunya? Mungkinkah bertemu kedua ayah dan ibunya dalam mimpi?

Berbeda dengan keinginannya untuk bertemu dengan sosok ayah, keinginan Bapak untuk bertemu ibunya hanya dapat diwujudkan kelak di surga nan abadi (Amin!).

Adanya kemungkinan bagi Bapak untuk bertemu dengan sosok ayahnya mendorong Bapak meninggalkan Lampung. Saat itu, Bapak kira-kira berusia 13 tahun. Bermodal nekad, berbekal alamat yang tidak begitu jelas dari uwak, paman atau bibinya, Bapak menuju kota Bandung untuk mencari jejak kaki ayahnya.

Walaupun Bapak lahir di Bandung, tapi bukan hal yang mudah untuk Bapak menyusuri kota yang dikenal dengan sebutan Parisj Van Sampah ini. Hal ini dimungkinkan karena Bapak dibawa ke Lampung ketika masih bayi. Dan ini pertama kalinya Bapak kembali ke Kota Bandung.

Sewaktu bercerita (kepada temannya) tentang perjalanan dalam rangka pencarian sosok ayahnya, Bapak kurang begitu detail mengupas setiap lembaran hari yang dilewatinya. Sampai sekarang aku tak tahu berapa lama Bapak mencari ayahnya. Yang pasti Bapak mengatakan bahwa waktu itu sudah dekat menjelang pernikahan Bapak dengan Emak, Bapak baru bisa menemukan ayahnya. Ternyata Bapak lebih mudah menemukan jodohnya dari pada menemukan ayahnya sendiri.

Saat itu, ayahnya sudah mempunyai istri lagi dan beberapa orang anak. Bak tamu yang tak diundang, (memang mungkin tidak pernah diharapakan, boro-boro diundang) keluarga ayahnya yang baru menyambut dingin kedatangan Bapak saat itu.

Sungguh aku jauh lebih beruntung darimu, Bapak! Sangat jauh dari apa yang engkau alami. Engkau membelikanku makanan sebelum aku merasa lapar. Engkau membelikan aku sepatu sebelum telapak kakiku sakit. Engkau membelikanku sepeda motor sebelum betisku merasa capek, bahkan mobil untuk melindungiku dari panasnya matahari atau dinginnya air hujan. Lebih jauh dari itu, engkau membelikan aku rumah yang kudiami sekarang sebelum aku menemukan wanita yang akan kunikahi kelak. Aku yakin semua kemudahan itu sungguh bertolak belakang dengan apa yang engkau dapat di masa kecilmu, Bapak!

Kemarin, saat Emak menghidangkan santapan-santapan serba mewah di hadapan kita; kami, anak-anakmu begitu antusias melahapnya. Tapi tanganmu tetap tak bergerak menuju sendok dan garpu. Engkau hanya diam terpaku melihat kami yang rakus. Sepertinya, melihat kami menikmati hidangan itu, bagimu, terasa lebih nikmat dibanding menyantap makanan itu sendiri.
Terima Kasih, Bapak!

Allahumma ighfir lii wa liwalidayya, warham humma kamma rabbayani shaghira, Amin!

(Sebuah puisi di sampul depan Lone Eagle-Danielle Steel)

a thousands years,
a thousand fears,
a thousand tears,
we shed
for each other,
like moth
to flame,
a deadly game,
lost children
looking
for their mother,
and when hearts sing,
the music brings
magic
like no other,
the winter cold,
no hands to hold,
the summer
brief
and sunny,
and in the mornings,
pressed
close to you
cherished moments,
tender, loving,
funny,
we danced,
we laughed,
we flew,
we grew,
we dared,
we cared
more than any soul
could know
or reason,
the light so bright,
the fit so right
for a hundred
precious
seasons,
the moth,
the flame,
the dance
the same,
the broken wings
and treasured
things
in pieces
all around us,
the dream
the only one
i long for,
here or there,
our souls
laid bare
a million years
from now,
my heart
will
ever
hold you

HARI INI, 11-03-11, Uwak datang dari lampung. Dan Alhamdulillah, dapat cerita tambahan.

Begini: Uwak minta diantar ke rumah Kakek. Sepanjang perjalanan, Uwak banyak bercerita. Ternyata tanah Bapak waktu itu adalah 2 hektar. Sebagai perbandingan, harga tanah sekarang di sana adalah Rp2juta/ hektar. Hmm.. makes sense! Dan ternyata Emak dan Bapak itu masih kerabat dekat.

Di rumah Kakek, kita banyak ngobrol ngalor-ngidul, dan kata Kakek, Bapak dulu dikasih nama HENDRI RUSMANA. Ah, akhirnya terjawab!

Iklan

8 pemikiran pada “Maaf, Aku Mencuri Ceritamu

  1. ah, bahasanya kayak org kalimantan.. yowis, saya panggil saja miss X kalo ga mau nyebut nama mah. Lho, itu aku lg nulis cerbung di blog satunya lg, klik aja tab ‘cerbung’ di atas!

  2. Nyata geuning carita hirup Bapa anjeun ampir sarua jeung carita hirup Bapa kaula, sanajan rada beda. Ngan pokona mah, Bapa2 urang sarua digalakan ku dunia ti keur leutik keneh; sarua dirogahala ku dulur sorangan.

    Urang ge sarua pernah ngarasa hanjakal boga Bapak nu galak. Tapi sanggeus nyaho caritana mah, urang era ku kaayaan diri urang nu geus sarwa ngeunah hirup.

    Mugia ALLOH SWT tetep mikanyaah jeung tetep masihan hidayah ka Kolot-kolot urang hususna, jeung ka urang sararea umumna. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s