Inconvenient Convenience Store: Do I Look THAT Poor to You?

Frasa inconvenient convenience store yang menjadi judul di atas pernah saya baca di sebuah kicauan seorang teman. Sepertinya ia sedang kecewa ketika membuat kicauan tersebut. Demikian juga ketika saya menulis di blog ini. Hanya saja mungkin tingkat kekecewaan saya melebihi kekecawaanya. Kalau ia cukup dengan berkicau di ruang sempit yang hanya cukup untuk 140 karakter, saya membutuhkan ruang yang lebih lega untuk bisa menumpahkan semua unek-unek. Pasalnya, tadi di TKP saya menahan diri untuk meluapkan amarah.

Singkat kata, sekitar jam 8 malam, 1 Februari 2014, perut saya merasa lapar. Berangkatlah saya menunggangi si Silver menuju sebuah toko kelontong, yang dalam bahasa Inggris biasa disebut convenience store, untuk membeli alakadarnya apa pun yang bisa dipasak untuk dijadikan teman sepiring nasi.

Baca lebih lanjut

Iklan