Inconvenient Convenience Store: Do I Look THAT Poor to You?


Frasa inconvenient convenience store yang menjadi judul di atas pernah saya baca di sebuah kicauan seorang teman. Sepertinya ia sedang kecewa ketika membuat kicauan tersebut. Demikian juga ketika saya menulis di blog ini. Hanya saja mungkin tingkat kekecewaan saya melebihi kekecawaanya. Kalau ia cukup dengan berkicau di ruang sempit yang hanya cukup untuk 140 karakter, saya membutuhkan ruang yang lebih lega untuk bisa menumpahkan semua unek-unek. Pasalnya, tadi di TKP saya menahan diri untuk meluapkan amarah.

Singkat kata, sekitar jam 8 malam, 1 Februari 2014, perut saya merasa lapar. Berangkatlah saya menunggangi si Silver menuju sebuah toko kelontong, yang dalam bahasa Inggris biasa disebut convenience store, untuk membeli alakadarnya apa pun yang bisa dipasak untuk dijadikan teman sepiring nasi.


Dalam waktu singkat, terkumpullah 5 bungkus mie instan, setengah kilogram telur, dan dua saset daging awetan: satu saset buat saya pasak, satu saset untuk kucingku, Erik. Beberapa hari ini, si Erik memang terlihat bosan dengan biskuit yang saya biasa kasih. Saya pernah memberi dia daging awetan, dia suka dan tidak ada efek samping seperti muntah-muntah dan sejenisnya. Dia tetap sehat setelah setelah mengonsumsi daging itu. Anyway, kembali ke pokok permasalahan. Jadi begitu: rencananya saya akan makan nasi dengan sesaset daging awetan dan tempe yang masih tersisa di dapur. Sementara mie instan dan telur akan saya simpan untuk persediaan.

Ada sedikit antrian di meja kasir. Tiga orang pramuniaga melayani konsumen, terdiri atas seorang wanita dan 2 orang pria. Saya kebagian pramuniaga pria yang menurut saya tidak ganteng. Bukan! Bukan itu yang membuat saya kecewa. Saya merasa biasa saja tidak dilayani oleh pramuniaga wanita. Setelah semua belanjaan saya disorotkan ke pemindai kode batang (barcode), tampaklah jumlah rupiah yang harus saya bayar, lebih dari 25 ribu tapi kurang dari 50 ribu. Saya merogoh dompet, di dalamnya hanya ada selembar uang kertas biru bergambar I Gusti Ngurahrai; cukup untuk membayar belanjaan saya. Tapi saya urung menggunakan uang tersebut dan lebih memilih mengeluarkan kartu ATM yang juga bisa berfungsi sebagai kartu debit. Alasannya saya SANGAT tidak suka jika dompet kosong, saya yakin Anda pun begitu, dan saya malas ke ATM untuk mengambil uang jika uang selembar di dompet itu saya pakai untuk membayar belanjaan.

Saya sodorkan kartu itu ke si pramuniaga tak ganteng. Alih-alih menggesekkannya ke mesin EDC, si pramuniaga malah bertanya dengan tatapan yang penuh curiga, “ini saldonya berapa? cukup gak?”

I was like.. whatttt??? something wrong with your mind?

Sebagai manusia yang dianugerahi amarah oleh Tuhan, saya merasa terhina dan berhak marah kepada si pramuniaga. Saya mencoba dan berhasil menahan diri. Biasanya, ketika dihinakan seperti ini, saya akan menggurutui si penghina sampai ke dedek-nya. Biasanya saya tak malu untuk marah-marah di tempat umum. Teman saya pasti setuju. Mereka pernah bilang mereka malu karena saya marah-marah di parkiran PVJ. Tapi kita simpan dulu cerita di parkiran itu.

So, kali ini saya cukup berhasil untuk tidak marah-marah. “Memangnya kenapa?” saya balik bertanya dengan suara hampir berbisik tapi cukup jelas untuk didengar oleh ketiga pramuniaga tersebut. Tapi, mata saya sepertinya tidak bisa menyembunyikan bahwa saya sedang marah.

“Iya, takutnya saldonya kurang. Kan, harus ada saldo yang mengendap di rekening, gak bisa dipakai semuanya,” kata si pramuniaga tak ganteng itu.

“Iya, saya tahu itu. Di rekening M****** minimal harus ada 100 ribu. Anda tidak percaya sama saya? Saya tidak akan memberi kartu itu kalau saldonya tak cukup!” Amarah saya hampir mencapai titik didih, tapi nada bicara saya tidak meledak-ledak. “Saya bawa uang tunai kok, saya bisa saja bayar pake ini, cuma saya butuh uang ini” lanjut saya sambil mengeluarkan gambar I Gusti Ngurahrai dari dompet. “Lagian kalo itu gak cukup, saya masih ada kartu yang lain!”

Si pramuniaga mulai menengkukkan batang leher penyangga kepalanya yang saya ingin potong itu. Dia terlihat menyesal.

“Ini siapa kepala tokonya di sini?” tanya saya. Maksudnya, saya ingin marah dengan cara elegan, dengan cara menyampaikan ketidakpuasan kepada manajemen toko.

“Saya sendiri, pak,” jawab si pramuniaga tak ganteng. “Sial! Kok, dia sendiri sih kepala tokonya,” gumamku dalam hati.

“Anda kok kepala toko tapi gak sopan? Saya bisa laporkan Anda, lho, ” saya mengancam.

Sependek perjalanan berkendara dari toko kelontong menuju rumah, saya menggerutu dalam hati. “Awas lho. Pokoknya, pas nyampe rumah, saya akan gugling alamat surat elektronik pelayanan aduan toko *tiit (sensor), akan saya adukan kejadian barusan. Eh, tapi kasian.. eh, tapi supaya jadi pelajaran, eh… ”

Pikiran saya semakin berkabut. Seperti ada dua suara berlawanan dalam kepala saya. Lagu yang diputar oleh radio “entah apa” pun tak begitu terdengar, padahal volumenya cukup keras. Saya set ke angka 27 pas berangkat dari rumah tadi, dan saya belum sempat mengubahnya ketika pulang dari toko itu.

“Laporkan!” “Jangan!” “Laporkan!” “Jangan!” “Laporkan!” “Jangan!” “Laporkan!” “Jangan!” “Laapp…” “Jangan, ah. Takutnya kalau dilaporkan ia akan dipecat atau diturunkan jabatan dari kepala toko. Takutnya ia tulang punggung keluarga. Kalau ia penghasilannya hilang atau turun, kasian keluarganya. Si pramuniaga tak ganteng memang layak dikasih pelajaran, tapi keluarganya tak berdosa. Jangan sampai mereka menanggung akibatnya.” Begitulah isi kesimpulan pikiran saya.

Akhirnya saya pulang ke rumah dengan niat mengadu yang tidak jadi. Pintu dibuka, si kucing Erik menyambut dengan tatapan khasnya. Kubuka sesaset daging awetan lalu ku tuang ke tempat pakannya dan langsung ke dapur untuk ngisikan beras.

“Tok, tok, tok,” tetangga sebelah banget yang rumahnya bertempel dengan rumah saya bertamu ketika saya sedang mengiris tempe. Saya ajak dia mengobrol di dapur, tapi dia bergeming di ruang tengah dan malah menyarankan saya untuk cepat cari pendamping agar ada yang masakin. “Hehe, iya, lagi nyari,” jawabku singkat.

Akhirnya, masak saya tunda dan menemani dia mengobrol di ruang tengah dalam keadaan super lapar.

“Kemarin siang ke mana pas saya ngadain syukuran? Kok gak ada? Aduh, maaf ya gak kebagian hidangannya, gak nyisa, ludes semua” Si tamu mulai basa-basi.

“Hehe, gak apa-apa. Ada kok di dalam rumah, gak ke mana-mana. Mobil saya kan ada di carport. Saya lagi tidur mungkin.” Padahal saya ingat, gak ada undangan ke acara tersebut. Obrolan semakin ngaler-ngidul, tentang apa saja. Yang paling banyak, konten obrolannya tentang pekerjaan dia dengan pengasilan wow-nya itu. Perutku pun semakin lapar. Nasi pasti sudah matang. Si tamu masih terlihat betah. Sambil membuka amplop hasil UAS mahasiswaku yang tergeletak di sofa dan belum sempat terperiksa (duh!), ia terus bercerita tentang pengalaman hidupnya. Sampai akhirnya kira-kira jam setengah sebelas malam, ia beranjak dan pamit.

Masak pun dilanjut dan akhirnya perut terisi. Alhamdulillah. Sekian.

Iklan

3 pemikiran pada “Inconvenient Convenience Store: Do I Look THAT Poor to You?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s