Inconvenient Convenience Store: Do I Look THAT Poor to You?

Frasa inconvenient convenience store yang menjadi judul di atas pernah saya baca di sebuah kicauan seorang teman. Sepertinya ia sedang kecewa ketika membuat kicauan tersebut. Demikian juga ketika saya menulis di blog ini. Hanya saja mungkin tingkat kekecewaan saya melebihi kekecawaanya. Kalau ia cukup dengan berkicau di ruang sempit yang hanya cukup untuk 140 karakter, saya membutuhkan ruang yang lebih lega untuk bisa menumpahkan semua unek-unek. Pasalnya, tadi di TKP saya menahan diri untuk meluapkan amarah.

Singkat kata, sekitar jam 8 malam, 1 Februari 2014, perut saya merasa lapar. Berangkatlah saya menunggangi si Silver menuju sebuah toko kelontong, yang dalam bahasa Inggris biasa disebut convenience store, untuk membeli alakadarnya apa pun yang bisa dipasak untuk dijadikan teman sepiring nasi.

Baca lebih lanjut

Iklan

Dear Malas,

Entah kapan kita bertemu? aku tidak ingat. Aku juga tidak tahu gimana caranya kita bisa bersahabat. O, malas! Kamu memang teman terbaikku, yang nyaris selalu hadir kapan pun dan di mana pun aku berada. Kamu juga teman yang paling perhatian. Di saat aku lagi bekerja, kamu yang paling duluan menegurku untuk ‘istirahat’. Bahkan, sebelum aku bekerja, sering kali kamu mengingatkanku supaya jangan terlalu ‘capek’.

Malas, terima kasih untuk kebersamaan yang kita jalani selama ini, dan untuk semua ‘kenikmatan’ yang selalu engkau suguhkan kepadaku. Tapi, mohon maaf jika hari ini aku memintamu supaya jangan terlalu sering datang, bahkan kalau bisa mending kita musuhan saja. Dua istriku yang baru, skripsi dan pasar, membeci kamu. Mereka memberi mandat padaku supaya menghapus dirimu dari daftar entri ‘kamus’ di dalam otakku.

Baca lebih lanjut

Hadiah Ultah Terindah

Janji yang tak bisa aku tepati, kegiatan rutin yang tak bisa aku ikuti, undangan yang tak bisa aku hadiri, aku mohon maaf. Momennya memang sungguh krusial bagiku. Tentunya aku tidak bisa membiarkan kedua orang tuaku yang sedang sakit terus-menerus diteror oleh bunyi HaPenya yang menagih hutang. I gotta take in charge, at least till they get well. Pikirku.

Tanggal 6 September adalah masalahnya. Semuanya kompak mau tutup buku pada hari itu. Pemilik pabrik tekstil yang dalam 2 tahun belakangan menjadi salah satu penyuplai bahan mentah konveksi kami adalah orang yang paling rajin “meneror” mereka. Padahal, selama ini dia tidak pernah menagih hutang. Seberapa besar pun hutang kami.

Sedikit kesal sih, kenapa tutup bukunya tidak sesudah lebaran saja? Maklum, kami hanya bermodalkan investasi kejujuran dan kepercayaan dari mereka yang memiliki pabrik tekstil. Jadi jangan pernah berpikir kami memiliki duit cadangan untuk mem-back up masa-masa sempit dan sulit seperti ini. Kasarnya, modal kami adalah hutang. Yang kami lakukan adalah memutarkan hutang dalam berupa kain. Kain itu kami sulap menjadi kerudung, sesudah itu kerudungnya kami dagangkan, uang hasil dagangnya kami bayarkan hutang lagi, ada lebihnya kami makan, pakai dlsb, tak ada lebihnya itu nasib kami.
Baca lebih lanjut

Bukan Itu Yang Menyedihkan

“Kapan mau nikah? Kenapa malam Minggu ada di rumah? Sudah punya pacar belum, dan blah blah blah?”

Heran! Akhir-akhir ini orang-orang doyan banget nanyain yang gituan. Padahal, mereka itu sama sekali bukan keluargaku. Orangtuaku saja belum pernah menanyakan hal-hal semacam itu. Kecuali ketika tiga kali: ketika ada tiga orangtua yang berbeda, secara bergantian, “melamar” aku untuk putri, cucu, dan kerabatnya. Itu pun HANYA ibuku yang HANYA meminta pendapatku tentang lamaran itu.
Baca lebih lanjut

I fell in love with Pulau Umang and Pulau Oar

“Nickey, aku sudah sembuh, ga akan kambuh lagi. Aku ikut ah..” sms terkirim!

Sebenarnya, seluruh badan masih terasa ngilu. Sesekali, batuk pun merobek heningnya pagi di daun pintu. Walaupun, kekhawatiran akan kambuhnya sakitku untuk yang ke tiga kalinya terus-menerus menteror, tapi kesempatan liburan ke Pulau Umang sungguh sayang untuk dibuang begitu saja, pikirku! Dan, ya, tentunya semua anggota Endless (English Debating Circle of STBA Students) juga berpikiran yang sama. Buktinya, jam 7 Senin pagi, semua anggota Endless, yang sudah mengkonfirmasi keikutsertaanya dalam liburan ini, kecuali aku dan Yuvi yang datang agak terlambat beberapa menit, sudah berkumpul di kampus, tempat di mana kami akan memulai perjalanan. Semuanya rela menghadang dinginnya pagi untuk tiba on time, bahkan in time di kampus. Saat itu, kami hapus “I don’t like Monday” dari perbendaharaan klausa kami. Dalam diri kami, melalui sembilan pasang mata binar, tak terlihat apapun, kecuali antusias. Tak ketinggalan, fitrah narsis manusia yang ada dalam diri kami berulang kali mengabarkan nama Pulau Umang pada dunia lewat facebook mobile.

Sebuah van bertuliskan The Amazing Umang membawa gelak tawa ceria jiwa-jiwa yang tak sabar ingin mengomentari Maha Karya Sang Seniman Sejati. Sepertinya kami sudah rindu pada Pulau Umang sejak sebelum kami bertemu dengannya.

Sekitar jam 8 malam, van itu  belok kanan, di tikungan yang ada sign post kecil bertuliskan “Anda Telah Memasuki Kawasan Wajib Senyum.” Dan mesin diesel pun berhenti mengeja kerinduan kami pada Pulau Umang. Tas-tas berukuran cukup besar mulai dikeluarkan dari bagasi belakang. Seorang pria bertopi dalam balutan kaos putih menyambut kami. Dia adalah Om Piter, ayahnya Monic, orang yang akan mengatur kegiatan kami selama di Pulau Umang. Om Piter rupanya memiliki kedudukan penting di sana. Aku tidak tahu persis apa posisinya. Yang aku tahu, dia adalah orang yang bertanggungjawab atas Tangkil Sari, sebuah arena outbound di sana. Setelah membagi ruangan untuk kami, Om Piter membawa kami ke dermaga. Beliau menjelaskan jadwal kegiatan kami sambil menerangkan apa-apa saja yang ada di Pulau Umang. “Penerangan ayahnya Monic lebih jelas dari guide yang ada di Bali,” kata salah seorang temanku. ” Ya!” Aku setuju.
Baca lebih lanjut

Strange Dream and the Strange Text from the Strange Number

Are you one of those who believe that sometimes a dream has a meaning? I AM!

Nabi Ibrahim A.S. diperintahkan untuk menyembelih puteranya melalui mimpi. Itulah salah satu contoh bahwa mimpi itu memang kadang-kadang memiliki arti.

Seminggu yang lalu, 21 Maret 2010, saya mengalami sebuah kejadian aneh yang berhubungan dengan mimpi. Dari kategorinya, saya bisa katakan kalau mimpi di malam itu adalah sebuah mimpi buruk. Tetapi, saya tidak akan menceritakan apapun yang saya lihat dalam mimpi malam itu. Saya tidak mau ada orang yang berkomentar mengenai isi mimpi saya. Yang jelas, saya kurang nyaman dengan mimpi tsb.

Well, pada malam itu saya tertidur ketika saya sedang menonton sebuah political parody di sebuah stasiun TV swasta. Dan, Zzz…(MIMPI)
Baca lebih lanjut

Aku Seorang Aktor Sinetron

Aku adalah mualaf sastra. Belum banyak kata-kata yang mampu aku produksi. Sekalipun  ada beberapa carik kertas yang merekamnya.  Namun, “kenapa semuanya bernada sumbang?” tanya adikku yang suka celutak masuk kamarku tanpa permisi. “Mana puisi cintanya?” lanjutnya enteng. Mungkin dikiranya puisi itu hanya bergelut dengan kata-kata gombal yang biasa dianggap ABG sebagai cinta.

Pabrik kata-ku biasa beroperasi di malam hari. Di saat orang-orang memproduksi mimpi.  Atau mabuk dalam gemerlap berahi. Saat itulah aku berkelahi.  Dengan cinta kadang juga benci.

Bagiku, malam adalah pelabuhan sunyi. Saat, ketika langit-langit kamar memutar sinetron yang aku bintangi di siang harinya. Namun seperti kata adikku, “mana sinetron cintanya?” tanyaku  pada Sang Sutradara yang sekaligus pemilik skenarionya. Sebagai pemain, aku hanya bisa usul. Peran apapun yang diberikan Sutradara tentunya harus aku jalani dengan profesional dan sepenuh hati.

Sejujurnya, aku juga pernah memerankan beberapa sinetron cinta. Sayang semua sinetron cinta yang aku bintangi berakhir dengan pengkhianatan. Terkadang aku juga kapok membintangi sinetron cinta. Tapi, aktor juga manusia, bukan? Wajarlah jika dia merasa jenuh kalau harus mendapat peran yang sama setiap kali bermain. Aku pun kembali meminta kepada Sutradara agar memberiku peran utama dalam sinetron cinta yang berakhir dengan happy ending. Namun, sampai saat ini Sang Sutradara belum juga menjawabnya. Mungkin aku belum cukup dewasa untuk mendapat peran itu. Sebagai Sutradara, tentunya Dia tahu kelebihan dan kekuranganku dalam ber-acting.
Baca lebih lanjut