Women, Shopping, and Stress

Dagang!! kata inilah yang terlintas dalam otakku saat pertama kali mataku melihat cahaya pagi itu. Uang kuliah yang belum dibayar adalah salah satu faktornya. Cek kanan, cek kiri, barang yang tersedia ternyata cuma sedikit. Tak peduli, pikirku! Biar dagang cuma sedikit, tapi ada andalan tambahan: nagih hutang, yay! Barang pun dikemas dan “blug…” masuk bagasi.

Baru saja mau nyalain mesin, tiba-tiba dari arah pintu

Ayah: bawa main tuh adikmu! biar gak stress liburan di rumah mulu

Adik: main kemana?

Ayah: kemana sajalah,

Baca lebih lanjut

Iklan

Cermin dan Teman

Sering aku tertawa sendiri ketika berdiri di depan cermin! Tahu ga kenapa? haha.. jawab sendiri lah. Tapi, tak jarang juga aku mentertawai orang yang bercermin ke kaca mobilku di sela-sela kemacetan (sempet-sempetnya nyebrang sambil bercermin). Tapi, yang paling ngeselin tuh ketika aku mendapati spion motorku di parkiran yang sudah terkilir oleh orang yang numpang bercermin tanpa permisi.

Ngomong-ngomong soal cermin, aku jadi teringat sama kata-kata Rumi:

Seorang teman itu seharusnya seperti cermin, yang memantulkan sisi baik dan buruk kita dari depan dengan jujur. Bukan seperti sisir, yang mengelus dari depan, lalu membuka menyingkap dari belakang.

Yang dikatakan Rumi itu memang ada benarnya. Namun, apakah sebuah cermin itu selamanya jujur? I dont think so!
Baca lebih lanjut

Aku Seorang Aktor Sinetron

Aku adalah mualaf sastra. Belum banyak kata-kata yang mampu aku produksi. Sekalipun  ada beberapa carik kertas yang merekamnya.  Namun, “kenapa semuanya bernada sumbang?” tanya adikku yang suka celutak masuk kamarku tanpa permisi. “Mana puisi cintanya?” lanjutnya enteng. Mungkin dikiranya puisi itu hanya bergelut dengan kata-kata gombal yang biasa dianggap ABG sebagai cinta.

Pabrik kata-ku biasa beroperasi di malam hari. Di saat orang-orang memproduksi mimpi.  Atau mabuk dalam gemerlap berahi. Saat itulah aku berkelahi.  Dengan cinta kadang juga benci.

Bagiku, malam adalah pelabuhan sunyi. Saat, ketika langit-langit kamar memutar sinetron yang aku bintangi di siang harinya. Namun seperti kata adikku, “mana sinetron cintanya?” tanyaku  pada Sang Sutradara yang sekaligus pemilik skenarionya. Sebagai pemain, aku hanya bisa usul. Peran apapun yang diberikan Sutradara tentunya harus aku jalani dengan profesional dan sepenuh hati.

Sejujurnya, aku juga pernah memerankan beberapa sinetron cinta. Sayang semua sinetron cinta yang aku bintangi berakhir dengan pengkhianatan. Terkadang aku juga kapok membintangi sinetron cinta. Tapi, aktor juga manusia, bukan? Wajarlah jika dia merasa jenuh kalau harus mendapat peran yang sama setiap kali bermain. Aku pun kembali meminta kepada Sutradara agar memberiku peran utama dalam sinetron cinta yang berakhir dengan happy ending. Namun, sampai saat ini Sang Sutradara belum juga menjawabnya. Mungkin aku belum cukup dewasa untuk mendapat peran itu. Sebagai Sutradara, tentunya Dia tahu kelebihan dan kekuranganku dalam ber-acting.
Baca lebih lanjut