Jika Anda Ingin Berhasil, Bersikaplah Egois!

Sebelum membahas orang-orang egois, mari kita definisikan dulu kata ego itu sendiri.

What is ego?

Lewis (2007) “your consciousness of your own identity.” Kamus Webster’s mendefinisikan ego: the individual as self-aware. Jadi apa sih buruknya menjadi egois? Kok, orang-orang menyuarakan supaya kita jangan egois. Kalau dilihat dari kedua definisi di atas, sama sekali tidak ada yang salah dengan ego.

Sebelum disentil oleh Paul Arden, saya (ikut-ikutan) percaya bahwa suara mayoritas adalah suara yang benar. Mayoritas orang menyuarakan supaya kita mengesampingkan ego, tapi tidak Paul Arden. Dalam bukunya, Whatever You Think Think the Opposite, ia menyatakan, “Mestinya kita dianugerahi ego karena suatu alasan. Orang-orang besar mempunyai ego yang besar; mungkin (maaf Arden, pada kata “mungkin,” ternyata Anda tidak lebih egois dari saya)itulah yang membuat mereka besar. So let’s put it to good use rather than to deny it. Life’s all about me anyway.” Oh, ini jawabnya. Yang salah bukan egonya, tetapi bagaimana cara ego itu digunakan. PUT IT TO GOOD USE!
Baca lebih lanjut

Bukan Itu Yang Menyedihkan

“Kapan mau nikah? Kenapa malam Minggu ada di rumah? Sudah punya pacar belum, dan blah blah blah?”

Heran! Akhir-akhir ini orang-orang doyan banget nanyain yang gituan. Padahal, mereka itu sama sekali bukan keluargaku. Orangtuaku saja belum pernah menanyakan hal-hal semacam itu. Kecuali ketika tiga kali: ketika ada tiga orangtua yang berbeda, secara bergantian, “melamar” aku untuk putri, cucu, dan kerabatnya. Itu pun HANYA ibuku yang HANYA meminta pendapatku tentang lamaran itu.
Baca lebih lanjut

I fell in love with Pulau Umang and Pulau Oar

“Nickey, aku sudah sembuh, ga akan kambuh lagi. Aku ikut ah..” sms terkirim!

Sebenarnya, seluruh badan masih terasa ngilu. Sesekali, batuk pun merobek heningnya pagi di daun pintu. Walaupun, kekhawatiran akan kambuhnya sakitku untuk yang ke tiga kalinya terus-menerus menteror, tapi kesempatan liburan ke Pulau Umang sungguh sayang untuk dibuang begitu saja, pikirku! Dan, ya, tentunya semua anggota Endless (English Debating Circle of STBA Students) juga berpikiran yang sama. Buktinya, jam 7 Senin pagi, semua anggota Endless, yang sudah mengkonfirmasi keikutsertaanya dalam liburan ini, kecuali aku dan Yuvi yang datang agak terlambat beberapa menit, sudah berkumpul di kampus, tempat di mana kami akan memulai perjalanan. Semuanya rela menghadang dinginnya pagi untuk tiba on time, bahkan in time di kampus. Saat itu, kami hapus “I don’t like Monday” dari perbendaharaan klausa kami. Dalam diri kami, melalui sembilan pasang mata binar, tak terlihat apapun, kecuali antusias. Tak ketinggalan, fitrah narsis manusia yang ada dalam diri kami berulang kali mengabarkan nama Pulau Umang pada dunia lewat facebook mobile.

Sebuah van bertuliskan The Amazing Umang membawa gelak tawa ceria jiwa-jiwa yang tak sabar ingin mengomentari Maha Karya Sang Seniman Sejati. Sepertinya kami sudah rindu pada Pulau Umang sejak sebelum kami bertemu dengannya.

Sekitar jam 8 malam, van itu  belok kanan, di tikungan yang ada sign post kecil bertuliskan “Anda Telah Memasuki Kawasan Wajib Senyum.” Dan mesin diesel pun berhenti mengeja kerinduan kami pada Pulau Umang. Tas-tas berukuran cukup besar mulai dikeluarkan dari bagasi belakang. Seorang pria bertopi dalam balutan kaos putih menyambut kami. Dia adalah Om Piter, ayahnya Monic, orang yang akan mengatur kegiatan kami selama di Pulau Umang. Om Piter rupanya memiliki kedudukan penting di sana. Aku tidak tahu persis apa posisinya. Yang aku tahu, dia adalah orang yang bertanggungjawab atas Tangkil Sari, sebuah arena outbound di sana. Setelah membagi ruangan untuk kami, Om Piter membawa kami ke dermaga. Beliau menjelaskan jadwal kegiatan kami sambil menerangkan apa-apa saja yang ada di Pulau Umang. “Penerangan ayahnya Monic lebih jelas dari guide yang ada di Bali,” kata salah seorang temanku. ” Ya!” Aku setuju.
Baca lebih lanjut

Cermin dan Teman

Sering aku tertawa sendiri ketika berdiri di depan cermin! Tahu ga kenapa? haha.. jawab sendiri lah. Tapi, tak jarang juga aku mentertawai orang yang bercermin ke kaca mobilku di sela-sela kemacetan (sempet-sempetnya nyebrang sambil bercermin). Tapi, yang paling ngeselin tuh ketika aku mendapati spion motorku di parkiran yang sudah terkilir oleh orang yang numpang bercermin tanpa permisi.

Ngomong-ngomong soal cermin, aku jadi teringat sama kata-kata Rumi:

Seorang teman itu seharusnya seperti cermin, yang memantulkan sisi baik dan buruk kita dari depan dengan jujur. Bukan seperti sisir, yang mengelus dari depan, lalu membuka menyingkap dari belakang.

Yang dikatakan Rumi itu memang ada benarnya. Namun, apakah sebuah cermin itu selamanya jujur? I dont think so!
Baca lebih lanjut

Strange Dream and the Strange Text from the Strange Number

Are you one of those who believe that sometimes a dream has a meaning? I AM!

Nabi Ibrahim A.S. diperintahkan untuk menyembelih puteranya melalui mimpi. Itulah salah satu contoh bahwa mimpi itu memang kadang-kadang memiliki arti.

Seminggu yang lalu, 21 Maret 2010, saya mengalami sebuah kejadian aneh yang berhubungan dengan mimpi. Dari kategorinya, saya bisa katakan kalau mimpi di malam itu adalah sebuah mimpi buruk. Tetapi, saya tidak akan menceritakan apapun yang saya lihat dalam mimpi malam itu. Saya tidak mau ada orang yang berkomentar mengenai isi mimpi saya. Yang jelas, saya kurang nyaman dengan mimpi tsb.

Well, pada malam itu saya tertidur ketika saya sedang menonton sebuah political parody di sebuah stasiun TV swasta. Dan, Zzz…(MIMPI)
Baca lebih lanjut

Aku Seorang Aktor Sinetron

Aku adalah mualaf sastra. Belum banyak kata-kata yang mampu aku produksi. Sekalipun  ada beberapa carik kertas yang merekamnya.  Namun, “kenapa semuanya bernada sumbang?” tanya adikku yang suka celutak masuk kamarku tanpa permisi. “Mana puisi cintanya?” lanjutnya enteng. Mungkin dikiranya puisi itu hanya bergelut dengan kata-kata gombal yang biasa dianggap ABG sebagai cinta.

Pabrik kata-ku biasa beroperasi di malam hari. Di saat orang-orang memproduksi mimpi.  Atau mabuk dalam gemerlap berahi. Saat itulah aku berkelahi.  Dengan cinta kadang juga benci.

Bagiku, malam adalah pelabuhan sunyi. Saat, ketika langit-langit kamar memutar sinetron yang aku bintangi di siang harinya. Namun seperti kata adikku, “mana sinetron cintanya?” tanyaku  pada Sang Sutradara yang sekaligus pemilik skenarionya. Sebagai pemain, aku hanya bisa usul. Peran apapun yang diberikan Sutradara tentunya harus aku jalani dengan profesional dan sepenuh hati.

Sejujurnya, aku juga pernah memerankan beberapa sinetron cinta. Sayang semua sinetron cinta yang aku bintangi berakhir dengan pengkhianatan. Terkadang aku juga kapok membintangi sinetron cinta. Tapi, aktor juga manusia, bukan? Wajarlah jika dia merasa jenuh kalau harus mendapat peran yang sama setiap kali bermain. Aku pun kembali meminta kepada Sutradara agar memberiku peran utama dalam sinetron cinta yang berakhir dengan happy ending. Namun, sampai saat ini Sang Sutradara belum juga menjawabnya. Mungkin aku belum cukup dewasa untuk mendapat peran itu. Sebagai Sutradara, tentunya Dia tahu kelebihan dan kekuranganku dalam ber-acting.
Baca lebih lanjut

بكت عيني

(Aku berhenti berharap, dan menunggu datang gelap[1] karena aku tahu habis gelap terbitlah terang[2])

Angin mengabarkan harapan yang pergi. Mungkin aku terlalu kuat mengepal harapan itu, sehingga harapan yang masih bayi itu pun tulangnya remuk oleh genggaman jari-jariku yang ceroboh. Harapan, yang kemarin terlihat indah, kini sudah tidak memiliki rupa. Tak berbentuk; tulang-tulang penyangganya roboh. Yang ada hanya darah hitam yang mengalir di sela-sela pori-pori tanganku yang kedinginan.

Tak dapat aku pungkiri kalau ke-pengecut-an-ku juga memberi andil. Selama ini, aku bisa dikatakan tipe orang yang berani mengambil risiko. Tapi, untuk urusan hati, call me a big fat loser! Phobia and traumata are hampering me all the time.

Some say: there’s no chance unless you take one, another say: opportunity strikes only once. Mark their words, guys! Trust me, they’re 100% RIGHT!
Baca lebih lanjut